Jelang Malam Tahun Baru, Bandara Ngurah Rai Bali Mulai Ramai

2026-02-05 13:53:39
Jelang Malam Tahun Baru, Bandara Ngurah Rai Bali Mulai Ramai
DENPASAR, - Puluhan ribu wisatawan mulai berdatangan melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Kecamatan Tuban, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, jelang perayaan malam pergantian Tahun Baru 2026.Berdasarkan catatan posko Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Bandara I Gusti Ngurah Rai, per Minggu , tercatat pergerakan penumpang mencapai 73.911 orang dengan 415 penerbangan.Angka tersebut didominasi oleh para penumpang yang datang, yaitu 17.364 penumpang domestik dengan 109 penerbangan dan 23.678 penumpang internasional dengan 110 penerbangan.Baca juga: Wisata di Bali Terlihat Sepi Saat Libur Nataru, Gubernur Koster: Faktor CuacaSementara itu, penumpang domestik yang berangkat sebanyak 14.071 dengan 106 penerbangan dan penumpang internasional sebanyak 18.789 dengan 109 penerbangan.Communication and Legal Division Head Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Gede Eka Sandi Asmadi, mengatakan pihaknya telah melayani 885.080 penumpang atau rata-rata 68.803 penumpang per hari selama 13 hari posko angkutan Nataru beroperasi, terhitung sejak 15 hingga 27 Desember 2025."(Angka tersebut) meningkat 3,9 persen dibandingkan rata-rata harian pergerakan penumpang selama Januari-November 2025 sebanyak 66.222 pax per hari," katanya dalam keterangan tertulis pada Senin .Ia menambahkan jumlah pergerakan pesawat juga mengalami peningkatan 12 persen dibandingkan rata-rata harian sepanjang tahun 2025.Tercatat 5.562 penerbangan dengan rata-rata 427 pergerakan per hari, sedangkan rata-rata harian sepanjang 2025 mencapai 390 pergerakan per hari.Baca juga: Koster Sebut Wisman ke Bali Naik 600 Ribu, Bantah Isu Penurunan Kunjungan di Akhir Tahun"Untuk trafik pesawat selama periode yang sama tercatat 5.562 movement dengan rata-rata 427 mov per hari, 12 persen lebih banyak dibandingkan rata-rata harian sepanjang 2025 mencapai 390 mov per hari," katanya.Selain itu, ia mencatat rute penerbangan didominasi dari Jakarta, Surabaya, Lombok, Singapura, Kuala Lumpur, dan Perth, Australia."Di tengah kondisi cuaca yang mulai memasuki musim hujan, PT Angkasa Pura Indonesia-Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai beserta seluruh komunitas bandara selalu berusaha menjaga keselamatan penerbangan," tuturnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-05 12:35