Cucun Syamsurijal: Saya Mohon Maaf apabila Dianggap Menyinggung Profesi Ahli Gizi

2026-01-12 06:50:04
Cucun Syamsurijal: Saya Mohon Maaf apabila Dianggap Menyinggung Profesi Ahli Gizi
JAKARTA, - Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menyampaikan permohonan maaf atas polemik yang muncul terkait responsnya terhadap usulan peserta forum konsolidasi SPPG MBG se-Kabupaten Bandung, yang dianggap menyinggung profesi ahli gizi.Cucun menegaskan bahwa pernyataannya saat itu sebenarnya dimaksudkan untuk meluruskan pembahasan soal usulan mengganti istilah “ahli gizi” dalam proses rekrutmen petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).Hal itu disampaikan Cucun melalui pernyataan tertulisnya di media sosial Instagram @Cucun_Center.Cucun menegaskan dirinya tak bermaksud menyinggung profesi ahli gizi.Baca juga: Wakil Ketua DPR Cucun Syamsurijal Minta Maaf soal Polemik Respons Usulan Ahli Gizi“Saya menyampaikan permohonan maaf apabila dinamika pembahasan di dalam ruangan terkait tuntutan aspirasi sempat menjadi konsumsi publik dan dianggap menyinggung profesi ahli gizi,” kata Cucun, dikutip dari instagramnya, Senin .Sejak awal, dia mengaku hanya ingin memastikan bahwa perubahan diksi tidak akan menurunkan kualitas pengawasan dan penyediaan makanan bergizi dalam program pemerintah.“Sejak awal, tujuan saya adalah meluruskan bahwa apabila terjadi perubahan diksi terdapat kekhawatiran bahwa kualitas makanan bergizi, termasuk aspek pengawasannya, menjadi tidak dapat dipastikan,” ujar dia.Cucun memastikan bahwa usulan perubahan istilah dari ahli gizi menjadi quality control atau pengawas makanan bergizi yang sempat mencuat masih sebatas wacana.“Usulan perubahan dari ‘ahli gizi’ menjadi ‘quality control’ atau ‘pengawas makanan bergizi’ masih sebatas wacana dan belum tentu diberlakukan,” kata dia.“Dalam video yang beredar, pembahasan tersebut merupakan respons atas usulan yang meminta agar embel-embel ‘ahli gizi’ tidak digunakan,” sambung dia.Ia menekankan bahwa penghilangan nomenklatur profesi justru dapat membuka peluang bagi individu tanpa kompetensi gizi memasuki ruang profesi tersebut.Baca juga: Prabowo: Brasil Perlu 11 Tahun untuk Beri MBG ke 40 Juta Orang, RI Tak Sampai 1 TahunOleh karena itu, Cucun menilai, penegasan nomenklatur profesi penting untuk menjaga standar layanan gizi dan pangan bergizi.“Oleh karena itu, penegasan nomenklatur profesi menjadi penting untuk menjaga kepastian peran serta kualitas layanan gizi dan pangan bergizi,” ujar dia.Cucun juga mengapresiasi perhatian publik atas isu ini dan memastikan seluruh aspirasi akan menjadi bahan pertimbangan DPR.“Setiap aspirasi yang disampaikan sangat berarti bagi penguatan program Presiden RI Prabowo yang begitu luar biasa dalam mempersiapkan masa depan dan kualitas generasi penerus bangsa,” pungkas dia.Sebelumnya diberitakan, Cucun meminta maaf terkait polemik responsnya terhadap usulan peserta forum konsolidasi SPPG MBG se-Kabupaten Bandung.Politikus PKB itu menerangkan, respons tersebut disampaikannya untuk meluruskan pembahasan soal usulan tidak lagi menggunakan istilah “ahli gizi” dalam proses rekrutmen petugas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).“Saya sudah sampaikan di media sosial saya. Bahkan, semalam kita diskusi sama Ketua Persagi. Pemikiran-pemikiran beliau luar biasa tadi dibahas di sini. Tadi juga di awal pertemuan sudah kita sampaikan,” ujar Cucun, usai pertemuan tertutup dengan perwakilan BGN dan Persatuan Ahli Gizi (Persagi) di Gedung DPR RI, Senin .Cucun menerangkan, persoalan tersebut sebetulnya bermula dari pembahasan di Komisi IX DPR RI.Ketika itu, pemerintah dan DPR berupaya mencari solusi atas kelangkaan tenaga ahli gizi dan tenaga lain seperti akuntan.Dari situ, kata Cucun, muncul masukan agar dilakukan perubahan istilah dari ahli gizi menjadi quality control atau 'pengawas makanan bergizi', dengan maksud mempermudah pencarian petugas.“Teman-teman ahli gizi ini sudah tahu di bawah. Menyampaikan usulan, ada kalimatnya enggak sedikit, jangan pakai embel-embel apa? Ahli gizi, kalau memang mau diganti,” kata Cucun.Menurut Cucun, respons yang disampaikannya tersebut justru ingin mengingatkan dampak dari penghilangan nomenklatur tersebut.Di antaranya berpotensi membuka jalan bagi pihak yang tidak memiliki kompetensi gizi untuk memasuki ruang profesi tersebut.“Kalau mau diganti, jangan pakai embel-embel ahli gizi. Kita respons, kita akan bawa, kalau memang misalkan seperti ini, nanti justru profesinya yang akan tereliminir sama yang profesi-profesi lain,” kata dia.


(prf/ega)