Media Belanda Ungkap Sosok Baru Calon Pelatih Timnas Indonesia, Pernah Main di Ajax

2026-02-02 18:10:15
Media Belanda Ungkap Sosok Baru Calon Pelatih Timnas Indonesia, Pernah Main di Ajax
- Satu sosok yang pernah bermain untuk Ajax Amsterdam dan Atletico Madrid disebut jadi salah satu calon pelatih Timnas Indonesia.Kursi pelatih Timnas Indonesia masih belum terisi setelah kerja sama dengan Patrick Kluivert berakhir.Situasi ini memunculkan banyak spekulasi terkait calon pelatih baru timnas, terutama dari kalangan berkebangsaan Belanda.PSSI di bawah Erick Thohir tetap membuka peluang untuk berbagai kandidat, termasuk pelatih dari Asia.Dalam perkembangan terbaru, John Heitinga masuk dalam daftar nama yang dibicarakan.Media Belanda VoetbalPrimeur menyoroti aktivitas Heitinga di media sosial sebagai sinyal ketertarikannya.Ia mulai mengikuti sejumlah akun yang berkaitan dengan sepak bola Indonesia.Baca juga: Jadwal Siaran Langsung Timnas U22 Indonesia Vs Filipina di SEA Games 2025Laporan VoetbalPrimeur menyebut tindakan Heitinga mengikuti akun terkait federasi, timnas, serta tokoh seperti Jordi Cruijff bisa dianggap sebagai isyarat.Media tersebut menulis, "John Heitinga kemungkinan telah memberikan petunjuk tentang kerja sama dengan Indonesia melalui Instagram."Mereka menambahkan, "Mantan bek tersebut mulai mengikuti tim nasional Indonesia, presiden federasi sepak bola negara tersebut, dan penasihat Jordi Cruijff pada saat yang sama."Hubungan antara sepak bola Indonesia dan Belanda cukup kuat karena banyak pemain keturunan lahir di sana.Dok. Ajax Amsterdam John Heitinga (tengah) resmi berseragam Ajax Amsterdam mulai musim 2015-2016.Heitinga memiliki darah Indonesia dari ayahnya dan pernah berkunjung ke Tanah Air.Latar belakang tersebut sejalan dengan preferensi PSSI yang menginginkan pelatih dengan koneksi budaya serupa dengan beberapa pemain.Baca juga: Timnas U22 Indonesia Vs Filipina: Garuda Muda Punya Kualitas Pertahankan EmasSelain itu, Heitinga pernah memperkuat beberapa klub top Eropa, seperti Ajax Amsterdam (2001-2008, 2015-2016), Atletico Madrid (2008-2009), dan Everton (2009-2014).John Heitinga juga mengoleksi 87 caps bersama Timnas Belanda selama memperkuat Oranje sejak 2004-2013.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 17:53