Arab Saudi Nyatakan UEA sebagai Ancaman Usai Pergoki Kiriman Senjata ke Yaman

2026-01-11 03:20:32
Arab Saudi Nyatakan UEA sebagai Ancaman Usai Pergoki Kiriman Senjata ke Yaman
AL MUKALLA, - Arab Saudi pada Selasa menyebut Uni Emirat Arab (UEA) melakukan tindakan berbahaya, setelah Riyadh menyerang pengiriman senjata untuk separatis di Yaman selatan.Dalam pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menegaskan bahwa tindakan UEA dapat menggoyahkan stabilitas kawasan.“Langkah-langkah yang diambil oleh UEA dianggap sangat berbahaya,” bunyi pernyataan itu, dikutip dari kantor berita AFP.Baca juga: Arab Saudi Bombardir Yaman, Targetkan Separatis yang Didukung Uni Emirat Arab“Kerajaan menekankan bahwa setiap ancaman terhadap keamanan nasionalnya adalah garis merah, dan Kerajaan tidak akan ragu untuk mengambil semua langkah serta tindakan yang diperlukan untuk menghadapi dan menetralisir ancaman tersebut,” lanjutnya.Pernyataan ini keluar beberapa jam setelah koalisi pimpinan Saudi menyerang pengiriman senjata yang ditujukan untuk pasukan separatis di Yaman selatan.Serangan tersebut menyasar dua kapal yang diklaim membawa peralatan militer dari UEA ke pelabuhan Al Mukalla, wilayah yang kini dikuasai oleh Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung Abu Dhabi.Dalam laporan yang disampaikan melalui kantor berita Pemerintah Saudi, koalisi menyebut telah melancarkan operasi terbatas yang menargetkan senjata dan kendaraan tempur yang diturunkan dari dua kapal tersebut.“Mengingat bahaya dan eskalasi yang ditimbulkan oleh senjata-senjata ini... Angkatan udara koalisi melakukan operasi militer terbatas pagi ini,” demikian pernyataan koalisi.Rekaman dari AFP memperlihatkan puluhan kendaraan militer dan truk pikap terparkir di pelabuhan, beberapa di antaranya hangus terbakar dan disiram air oleh petugas.Seorang pejabat pelabuhan menyebutkan bahwa peringatan evakuasi diterima sekitar pukul 04.00 pagi waktu setempat.Baca juga: Serangan Udara Arab Saudi Gempur Separatis Yaman di HadhramautAFP/MOHAMMED HUWAIS Seorang jurnalis foto mengambil gambar asap, usai Israel serang Yaman di ibu kota Yaman, Sana'a, yang dikuasai Houthi, pada 24 Agustus 2025.Menanggapi serangan itu, Ketua Dewan Kepemimpinan Kepresidenan Yaman, Rashad Al Alimi, mengumumkan keadaan darurat nasional selama 90 hari.Ia juga membatalkan pakta keamanan dengan UEA dan meminta agar semua pasukan Emirat yang ada di wilayah Yaman ditarik dalam waktu 24 jam.Riyadh mendukung langkah ini dan mendesak Abu Dhabi agar segera menghentikan dukungan keuangan serta militer bagi kelompok-kelompok separatis.Namun, STC yang juga termasuk bagian dari pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional, menolak keputusan tersebut.Anggota STC menyatakan, keputusan dewan justru bisa memicu konfrontasi baru dan merusak hubungan dengan sekutu regional.Ketegangan Arab-UEA menandai memburuknya hubungan kedua negara, yang selama ini berada dalam satu koalisi dalam konflik Yaman.Saudi dan UEA sebelumnya bersekutu dalam upaya memerangi kelompok Houthi yang didukung Iran, dan menguasai sebagian besar Yaman utara termasuk ibu kota Sana'a.Namun, belakangan ini, separatis yang didukung UEA semakin aktif di Yaman selatan, berusaha menghidupkan kembali negara Yaman Selatan yang dulu merdeka sebelum bergabung dengan Yaman Utara.Kemajuan cepat yang diraih kelompok separatis beberapa pekan terakhir disebut-sebut mempermalukan Saudi sebagai pendukung utama Pemerintah Yaman yang sah.Baca juga: Modal Visa Umrah, Puluhan Ribu Warga Pakistan Jadi Pengemis di Arab Saudi


(prf/ega)