Pakar Sosiologi Ingatkan Potensi Konflik Sosial di Daerah Bencana: Bantuan Lambat Bisa Picu Apatisme

2026-01-12 06:59:55
Pakar Sosiologi Ingatkan Potensi Konflik Sosial di Daerah Bencana: Bantuan Lambat Bisa Picu Apatisme
- Pakar Sosiologi Pedesaan Institut Pertanian Bogor (IPB) Ivanovich Agusta mengatakan bahwa dampak sosial setelah bencana sering luput dari perhatian publik.Ia menegaskan bahwa bencana bukan hanya merusak fisik rumah, tetapi juga merusak sistem sosial yang menjaga kerekatan dan identitas desa.Menurutnya, masyarakat desa mengalami disrupsi secara tiba-tiba dalam struktur sosial dan relasi antarwarga saat bencana terjadi.Salah satu dampak paling nyata adalah dislokasi sosial yang membuat ruang-ruang komunal seperti balai desa, musala, pasar, hingga jalan yang selama ini sebagai pusat interaksi warga menjadi hilang.“Ketika ruang-ruang itu hilang, ritme kehidupan desa terputus. Interaksi melemah, komunikasi terganggu, dan solidaritas sosial ikut teruji,” ujar Ivanovich dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Selasa .Baca juga: Update Korban Hilang Banjir Sumatera: Aceh 31 Orang, 138 Sumut, 95 SumbarIvanovich mengatakan, bencana juga menimbulkan tekanan psikososial seperti rasa takut, trauma, dan masa depan yang tidak pasti. Menurutnya, kondisi tersebut bisa membuat semangat kerja dan partisipasi warga dalam berbagai aktivitas sosial menjadi turun.Tak hanya itu, pranata sosial desa berpotensi terganggu, seperti jadwal tanam petani, kegiatan kelompok tani, arisan, posyandu, hingga aktivitas keagamaan yang berhenti untuk sementara waktu karena wilayah mengalami kerusakan dan akses yang terbatas.“Terhentinya pranata sosial ini sangat melemahkan integrasi masyarakat desa. Padahal di situlah kekuatan sosial warga selama ini berada,” ungkapnya.Baca juga: BERITA FOTO: Jejak Kayu Gelondongan yang Terbawa Arus Banjir SumateraIvanovich menambahkan, anak-anak, perempuan, lansia, dan petani menjadi kelompok yang paling rentan terdampak. Anak-anak berpotensi kehilangan rasa aman dan akses pendidikan, sementara perempuan menanggung beban ganda dalam kondisi serba terbatas.Sedangkan, lansia menghadapi kendala mobilitas dan ketergantungan pada keluarga. Petani juga mengalami dampak jangka panjang karena kerusakan lahan, irigasi hancur, ternak hilang, dan siklus produksi terputus.“Petani menanggung dampak terberat dalam jangka panjang akibat lahan rusak, irigasi hancur, ternak hilang, serta berhentinya siklus produksi. Kerentanan petani ini bersifat ekologis sekaligus sosial-ekonomi,” tutur Ivanovich.Baca juga: Update Banjir Sumatera: Korban Jiwa 964 Orang, Hilang 264 OrangIa juga menyoroti potensi munculnya konflik sosial di wilayah terdampak, salah satunya distribusi bantuan. 


(prf/ega)