Budaya Main Aman: Racun yang Memperlambat Transformasi BUMN

2026-01-12 04:09:54
Budaya Main Aman: Racun yang Memperlambat Transformasi BUMN
MOMEN vonis terhadap tiga mantan direksi PT ASDP Indonesia Ferry (kemudian direhabilitasi Presiden Prabowo Subianto) atas kasus akuisisi kapal menjadi lebih dari sekadar peristiwa hukum.Ia berubah menjadi cermin besar bagi seluruh jajaran BUMN: bagaimana keputusan bisnis strategis bisa tiba-tiba direduksi menjadi angka semata umur kapal, nilai residu besi tua dan diseret ke ruang kriminalisasi.Kasus ini menyampaikan pesan keras: di tengah ambisi transformasi, banyak direksi dan manajemen kini ketakutan mengambil keputusan strategis. Ketakutan itulah yang bisa membunuh inovasi jauh lebih cepat daripada badai kompetisi.Transformasi di lingkungan BUMN telah menjadi agenda nasional yang terus digenjot dalam beberapa tahun terakhir.Restrukturisasi, digitalisasi, tata kelola baru, semua diarahkan untuk menjadikan BUMN sebagai lokomotif ekonomi nasional.Namun di balik itu, ada racun yang tidak tampak oleh data: budaya main aman. Pola pikir yang menomorsatukan keamanan personal dan prosedur administratif dibanding keberanian mengambil risiko untuk kemajuan.Baca juga: Tragika Ira Puspadewi: Ketika Keberanian Berinovasi Berujung PenjaraMengapa budaya main aman berbahaya?Budaya main aman muncul ketika pegawai, dari level staf hingga pimpinan, memprioritaskan menghindari risiko dan kesalahan, dibanding mengejar hasil dan kemajuan.Keputusan sering dibuat berdasarkan keamanan pribadi, bukan kepentingan organisasi atau pelanggan.Budaya seperti ini menciptakan pola perilaku:Jika budaya ini dibiarkan, maka transformasi hanya akan menjadi jargon. Strategi terbaik pun akan gagal ketika dieksekusi oleh mentalitas yang salah.Bayangkan dua pegawai dengan situasi yang sama: mereka menemukan peluang efisiensi proses yang berpotensi menghemat waktu dan biaya operasional bagi perusahaan.Pegawai dengan mentalitas saat ini lebih memilih diam dan tidak melakukan apa-apa. Ia berkata dalam hati: “Kalau saya mengusulkan ide baru dan gagal, saya bisa disalahkan. Lebih aman kalau semuanya dibiarkan berjalan seperti biasa. Yang penting saya tidak bikin masalah.”Baca juga: Korupsi Berujung RehabilitasiIa menunggu instruksi, memastikan semua prosedur formal dipenuhi, dan merasa aman karena tidak mengambil risiko pribadi.Hasilnya, organisasi tidak bergerak maju satu langkah pun, tetap berjalan di tempat dalam rutinitas yang stagnan.


(prf/ega)