Ilmuwan Prediksi Kepunahan Manusia dan Mamalia, Bagaimana dan Kapan Terjadi?

2026-01-12 12:08:53
Ilmuwan Prediksi Kepunahan Manusia dan Mamalia, Bagaimana dan Kapan Terjadi?
- Gagasan bahwa manusia dan mamalia suatu hari punah karena panas ekstrem mungkin terdengar seperti adegan film fiksi ilmiah.Namun, penelitian yang dipublikasikan di Nature Geoscience pada 25 September 2023 justru menggambarkan skenario ilmiah yang nyata berdasarkan pemodelan jangka panjang.Dalam riset tersebut, para ilmuwan memproyeksikan kondisi Bumi ketika benua-benua kembali menyatu membentuk superbenua baru bernama Pangea Ultima.Pada konfigurasi ini, sebagian besar daratan berada jauh dari samudra yang selama ini menjadi elemen penting untuk menstabilkan suhu global.Tanpa peran lautan, Bumi diprediksi berubah menjadi planet yang sangat panas, kering, dan tidak lagi ramah bagi kehidupan kompleks.Para peneliti menegaskan bahwa perubahan tata letak benua inilah yang mendorong munculnya kondisi ekstrem, belum pernah dialami oleh manusia modern.Baca juga: Inilah Tempat Terpanas di Bumi, Suhu Pernah Tembus 56,7 Derajat Celsiuswikimedia commons Gambar yang menunjukkan Model Saat Ini dari Superbenua Pangea Proxima berikutnya dalam 250 Juta Tahun MendatangDilansir dari Earth, Sabtu , penelitian yang dipimpin Dr. Alexander Farnsworth dari Universitas Bristol menggabungkan faktor geologi, astronomi, dan atmosfer untuk memodelkan masa depan Bumi.Daratan luas Pangea Ultima membuat wilayah pedalaman terjebak panas ekstrem karena tak ada angin laut yang mampu menyerap dan menyejukkan suhu permukaan.Secara alami, intensitas radiasi Matahari meningkat seiring waktu. Dalam 250 juta tahun mendatang, radiasinya diperkirakan naik 2,5 persen, cukup untuk menaikkan suhu Bumi secara drastis.Pergerakan lempeng di superbenua dapat memicu letusan besar dan melepaskan karbon dioksida dalam jumlah sangat tinggi.Konsentrasi CO2 diproyeksikan melampaui 600 ppm, membuat pemanasan global tak dapat dikendalikan.Dalam model iklim yang dibuat tim, sebagian besar daratan Pangea Ultima mengalami suhu 40–50 derajat Celsius, bahkan mencapai 70 derajat Celsius di wilayah tropis.“Pada suhu seperti itu, tubuh manusia dan mamalia tidak dapat lagi mendinginkan diri lewat keringat. Kematian akibat panas menjadi tak terhindarkan,” kata Farnsworth.Baca juga: Bukan Everest, Puncak Gunung Chimborazo Jadi Titik Terjauh dari Pusat Bumi, Kenapa Bisa?Selama jutaan tahun, mamalia berhasil bertahan dari berbagai perubahan lingkungan, dari zaman es hingga pemanasan global ringan.


(prf/ega)