Dugaan Keterlibatan Ormas Madas dalam Kekerasan Terhadap Nenek Elina, Ini Kata Polda Jatim

2026-01-14 01:44:52
Dugaan Keterlibatan Ormas Madas dalam Kekerasan Terhadap Nenek Elina, Ini Kata Polda Jatim
SURABAYA, - Polda Jawa Timur (Jatim) memberikan tanggapan terkait dugaan keterlibatan organisasi masyarakat (ormas) Madura Asli (Madas) dalam kasus nenek 80 tahun di Surabaya, Elina Widjajanti.Rumah Elina yang beralamat di Dukuh Kuwukan Nomor 27 RT.005, RW.006, Kelurahan Lontar, Kecamatan Sambikerep, Kota Surabaya diduga dibongkar paksa pada 6 Agustus 2025.Sebelum dibongkar paksa, Elina didatangi oleh Samuel Ardi Kristanto, seseorang yang mengklaim membeli tanah rumah Elina dan sekelompok orang diduga dari organisasi masyarakat (ormas) Madura Asli (Madas).Baca juga: Jadi Tersangka Perobohan Rumah Nenek Elina, Anggota Ormas Madas M Yasin Diburu Polda JatimDalam video yang beredar, 4 orang tertangkap memaksa Nenek Elina keluar dari rumah dengan cara diangkat, salah satunya Muhammad Yasin yang diduga oknum Madas.Setelah pengembangan, Samuel dan Yasin telah ditetapkan Ditreskrimum Polda Jatim sebagai tersangka atas kasus kekerasan atau pengeroyokan bersama-sama terhadap orang atau barang.“Kalau kami perbuatan pidana itu melekat pada seseorang individu ya,” kata Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Polisi Widi Atmoko saat ditanya Kompas.com, Senin .Baca juga: Pembongkaran Paksa Rumah Nenek Elina, Ketum Ormas Madas: Saya Saja Baru TahuSamuel dan Yasin diduga melakukan pelanggaran tindak pidana kekerasan bersama-sama terhadap orang atau barang sesuai Pasal 170 KUHP dengan ancaman 5 tahun 6 bulan penjara.Dalam prinsip dasar hukum pidana tersebut menjerat Individualitas atau pertanggungjawaban pidana perorangan. Kelompok tidak bisa disalahkan atas perbuatan oknum di dalamnya.“Jadi barang di KUHP itu barang siapa. Jadi seseorang individu yang melakukan ya. Jadi bukan lagi kelompok ataupun yang lainnya,” jelasnya.Baca juga: Ketum Ormas Madas Klaim Anggotanya Tak Terlibat Pengusiran dan Bongkar Paksa Rumah Nenek ElinaSebelumnya, Nenek Elina juga ditanya oleh tim penyidik saat pemeriksaan di Polda Jatim pada Minggu soal asal muasal rombongan yang dibawa Samuel dan Yasin saat melakukan pengusiran.“Itu tadi Yasin dari rombongan apa itu, pakai baju merah tulisan Madas Malika. Itu yang nyuruh ngangkat saya keluar ndak boleh masuk ke dalam, terus saya diangkat orang empat, kaki dua tangan dua. Ya, saya lawan. Terus itu tapi dia membawa saya sampai agak luar terus baru diturunkan,” kata Nenek Elina.Terpisah, Ketua Umum DPP MADAS Sedarah, Moh Taufik membantah dan menekankan bahwa sekelompok orang tersebut bukanlah anggota mereka.Sedangkan, satu orang lainnya bernama Muhammad Yasin baru gabung menjadi keanggotaan pada Oktober 2025.“Pak Yasin itu baru gabung Oktober, yang lainnya kami tidak kenal, silahkan dicek KTA-nya (Kartu Tanda Anggota), identitasnya dicek,” imbuhnya.Ia menegaskan bahwa Yasin, salah seorang anggota telah dinonaktifkan sebagai bentuk pertanggung jawaban sejak 24 Desember 2025.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-14 01:41