Erik Lulus Doktor UNS dengan IPK 4,00 dalam 2 Tahun 2 Bulan Berkat Riset Kolaborasi Manusia dan Robot

2026-01-12 18:29:56
Erik Lulus Doktor UNS dengan IPK 4,00 dalam 2 Tahun 2 Bulan Berkat Riset Kolaborasi Manusia dan Robot
- Jauh lebih cepat dari masa studi normal, Engelbert Harsandi Erik Suryadarma hanya membutuhkan waktu 2 tahun 2 bulan untuk merengkuh gelar Doktor Teknik Industri di Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.Membuatnya menjadi lulusan Doktor tercepat dalam wisuda UNS periode XI tahun 2025, pada Sabtu .Selain itu Erik juga berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00 sehingga menyandang predikat lulusan terbaik.Pendidikan doktoral dimulai Erik pada tahun 2023. Keputusan memilih UNS didorong oleh kesesuaian bidang penelitian dengan calon promotor yang ia cari.Baca juga: UNS Siap Beri Bantuan Uang Tunai hingga Keringanan UKT ke Mahasiswa Terdampak Bencana Sumatera“Hanya di UNS saya menemukan promotor yang tepat di bidang sistem cerdas, robotik, dan otomasi, yaitu Prof. Dr. Eng. Ir. Pringgo Widyo Laksono, S.T., M.T.Eng.,” ungkapnya, dikutip dari situs kampus, Senin .Riset Erik meneliti tentang human-robot collaboration, pendekatan yang memungkinkan manusia dan robot bekerja bersama dengan lebih mulus.Ia mengembangkan interface berbasis gerakan mata yang memungkinkan interaksi tanpa sentuhan, tanpa alat tambahan yang dipasang pada tubuh manusia, serta respons yang sangat cepat.“Menggunakan antarmuka berbasis eye-gaze, manusia dapat berkomunikasi dengan robot secara natural. Teknologi ini juga aman digunakan di lingkungan berbahaya maupun area steril seperti industri farmasi,” jelas Erik.Baca juga: Sosok Sofie Imam Faizal, Mahasiswa UNS Jadi Pelatih Fisik Timnas U-17Ide penelitiannya datang dari refleksi kritis terhadap perjalanan revolusi industri.Kata Erik, industri 3.0 menghadirkan otomasi besar-besaran, disusul Industri 4.0 yang memperkuatnya dengan teknologi IoT dan kecerdasan sistem.Namun, kedua revolusi tersebut tanpa disadari membuat manusia tersingkir dari pabrik.“Robot memang unggul dalam kecepatan dan konsistensi, tetapi fleksibilitas tetap milik manusia. Robot harus diprogram ulang untuk setiap perubahan, sedangkan manusia bisa beradaptasi secara lebih instan,” ungkapnya.Adapun, Revolusi Industri 5.0 membawa semangat untuk mengembalikan manusia ke pabrik sebagai collaborator yang sejajar dengan teknologi. Bukan sebagai man-power tetapi man collaborator.Dalam kurun waktu dua tahun, penelitian ini telah menghasilkan dua artikel di jurnal internasional top-tier Q2 Scopus, satu artikel di jurnal Q3, satu prosiding internasional terindeks Scopus, dan satu prosiding internasional lainnya.Beberapa publikasi tambahan juga masih dalam proses peer-review.Dok. Humas UNS Universitas Sebelas Maret.


(prf/ega)