Saatnya Pendidikan Lingkungan Menjadi Mata Pelajaran Wajib

2026-01-12 18:10:05
Saatnya Pendidikan Lingkungan Menjadi Mata Pelajaran Wajib
INDONESIA kini berada dalam tekanan krisis ekologis yang semakin sulit dikendalikan. Bencana hidrometeorologi terjadi berulang, kualitas lingkungan menurun, dan pola perilaku masyarakat sering kali tidak menunjukkan kepedulian yang cukup terhadap keberlanjutan.Dalam situasi seperti ini, seruan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat pendidikan lingkungan di sekolah menjadi momentum penting yang tidak boleh dilewatkan. Pendidikan lingkungan perlu menjadi mata pelajaran wajib agar generasi muda memiliki dasar pemahaman dan etika ekologis yang kuat.Krisis lingkungan tidak akan membaik tanpa perubahan perilaku. Perubahan perilaku tidak akan lahir tanpa pendidikan. Logika sederhana ini menjelaskan mengapa pendidikan lingkungan harus memiliki ruang khusus dalam kurikulum nasional.Selama ini, isu lingkungan sering hadir sebagai materi sisipan. Akibatnya, pemahaman siswa hanya bersifat permukaan. Agar pembentukan karakter dan kesadaran ekologis berlangsung konsisten, pendidikan lingkungan membutuhkan waktu belajar yang terstruktur.Pendidikan lingkungan tidak hanya mengajarkan konsep ilmiah, tetapi juga membentuk pola pikir dan nilai hidup. Siswa perlu memahami mengapa sampah menumpuk, mengapa sungai berubah keruh, dan mengapa hutan memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia. Tanpa kesadaran dasar ini, upaya pemerintah dalam mitigasi krisis iklim akan selalu berhadapan dengan resistensi perilaku masyarakat.Baca juga: WWF: Pendidikan Lingkungan Harus Jadi Budaya Sekolah, Bukan Tambahan PelajaranUntuk membangun kesadaran ekologis, metode pembelajaran harus berkembang dari yang bersifat teoritis menjadi berbasis pengalaman. Sekolah dapat menjadi laboratorium hidup yang membiasakan siswa untuk berinteraksi dengan isu lingkungan secara langsung. Pendekatan berbasis proyek bisa membantu siswa memahami persoalan lingkungan di tingkat lokal.Kegiatan seperti pengelolaan sampah 3R, kebun sekolah, audit air, atau penanaman pohon memberi pengalaman konkret yang membekas jauh lebih kuat dibanding ceramah di kelas. Ketika siswa diajak memantau kondisi sungai di sekitar sekolah atau menanam mangrove di pesisir, mereka belajar bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama.Pengalaman langsung ini membangun keterampilan berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi perubahan iklim.Baca juga: Prabowo Minta Guru Masukkan Pendidikan Lingkungan ke Dalam SilabusUrgensi pendidikan lingkungan tidak akan menghasilkan perubahan jika sistem pendidikan tidak siap. Guru perlu diberi pelatihan khusus agar mampu mengelola materi pembelajaran dengan metode yang interaktif, ilmiah, dan relevan. Pelatihan ini harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan sekadar seminar singkat tanpa tindak lanjut.Guru adalah ujung tombak, sehingga penguatan kapasitas mereka menjadi kunci keberhasilan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Kementerian Lingkungan Hidup perlu merumuskan kurikulum standar yang jelas. Isi materi harus disesuaikan dengan kondisi ekologis Indonesia: deforestasi, polusi air, krisis keanekaragaman hayati, hingga perubahan iklim global.Regulasi yang kuat sangat diperlukan agar pendidikan lingkungan tidak sekadar menjadi anjuran, tetapi kewajiban yang memiliki tujuan pembelajaran terukur.Pendanaan juga menjadi faktor penting. Tanpa anggaran untuk pelatihan guru, fasilitas belajar, dan bahan ajar, pendidikan lingkungan akan berhenti pada dokumen kebijakan. Sekolah membutuhkan dukungan nyata agar mampu menerapkan pembelajaran berbasis proyek.Baca juga: Pahamkan Anak Isu Keberlanjutan dengan Kurikulum Pendidikan LingkunganPendidikan lingkungan tidak akan efektif jika kebiasaan di rumah dan masyarakat bertentangan dengan nilai yang dipelajari di sekolah. Peran keluarga sangat penting dalam memperkuat kebiasaan ramah lingkungan sehari-hari, seperti mengurangi plastik sekali pakai atau menghemat air.Konsistensi antara rumah, sekolah, dan ruang publik akan mempercepat pembentukan perilaku. Komunitas lokal juga dapat menjadi mitra penting sekolah. Kolaborasi dengan organisasi lingkungan, pemerintah daerah, atau perguruan tinggi bisa memperkaya pengalaman siswa melalui kunjungan lapangan, diskusi, atau kegiatan konservasi. Pendekatan multipihak ini membantu siswa memahami bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kolektif.Dorongan Presiden Prabowo menunjukkan adanya perhatian serius dari pemerintah terhadap pentingnya literasi ekologis. Momentum ini harus dijawab dengan kebijakan yang berpihak pada masa depan. Pendidikan lingkungan perlu masuk sebagai mata pelajaran wajib di jenjang pendidikan dasar dan menengah, dengan pelaksanaan yang terukur dan didukung pendanaan jelas.Indonesia menghadapi tantangan ekologis yang kompleks. Solusinya tidak dapat dicapai tanpa generasi yang memahami masalah secara ilmiah dan siap mengambil tindakan. Pendidikan lingkungan sebagai mata pelajaran wajib adalah fondasi untuk menciptakan generasi yang lebih cerdas, lebih peduli, dan lebih tangguh dalam menghadapi perubahan iklim.Masa depan lingkungan Indonesia bergantung pada apa yang diajarkan saat ini. Kebijakan pendidikan yang berpihak pada keberlanjutan adalah langkah kritis untuk memastikan bahwa generasi mendatang tidak mewarisi krisis yang sama, tetapi masa depan yang lebih hijau.


(prf/ega)