JAKARTA, - Longsor besar melanda dua wilayah Jawa Tengah dalam waktu berdekatan, yakni Banjarnegara dan Cilacap.Peristiwa tanah longsor di Banjarnegara yang melanda Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, terjadi pada Sabtu , setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut selama kurang lebih tiga jam. Dua orang tewas akibat insiden ini.Sementara longsor di Cilacap melanda Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, pada Kamis . Hingga kini, 16 orang dilaporkan meninggal dunia dan 7 orang masih hilang.Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kedua daerah ini memang rawan bencana longsor dan memakan korban dengan dengan jumlah terbanyak dalam 10 tahun terakhir.Baca juga: Kisah Korban Longsor Banjarnegara, Lari ke Hutan untuk Selamatkan DiriKepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam konferensi daring “Disaster Briefing” di Jakarta, Senin malam, mengatakan bahwa catatan historis menunjukkan pola kejadian longsor di Jawa Tengah tidak pernah lepas dari wilayah tengah hingga selatan provinsi itu.“Tingkat kerawanan longsor tidak berubah tanpa perbaikan lingkungan. Kalau historisnya pernah terjadi, kemungkinan akan terulang lagi seperti yang saat ini terjadi,” kata Muhari dilansir dari Antara.Berdasarkan data 2015–2024 BNPB mencatat Banjarnegara menempati urutan pertama wilayah dengan korban meninggal dan mengungsi akibat tanah longsor.Pada periode tersebut ada sebanyak 13.351 orang warga mengungsi akibat tanah longsor dan 330 orang menunggal dunia.Baca juga: 16 Meninggal dan 7 Masih Hilang, Operasi Pencarian Korban Longsor Cilacap Dihentikan karena Hujan DerasSementara Kabupaten Cilacap berada pada posisi kedua 9.547 orang warga mengungsi dan 276 orang warga meninggal dunia karena longsor.Selanjutnya disusul Kabupaten Magelang, Wonosobo, dan Purbalingga.Abdul menjelaskan bahwa longsor kerap terjadi di wilayah perbukitan yang memiliki struktur tanah gembur dan porositas tinggi.Ketika hujan turun dalam durasi lama, air mengisi rekahan dan memicu bidang luncuran tanah.Kondisi tersebut dinilai sebagai pemicu bencana tanah longsor.Baca juga: Tanah Longsor di Banjarnegara, Gubernur Jateng Pastikan 886 Warga Aman di Hunian SementaraDengan demikian, ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap tanda awal longsor seperti pohon yang miring atau rekahan tanah di lereng.Leberadaan sistem peringatan dini longsor berbasis teknologi sudah sangat dibutuhkan, karena berfungsi sebagai alarm bagi masyarakat untuk segera mengungsi ketika hujan deras turun."Upaya pencegahan hanya dapat dilakukan melalui penguatan vegetasi, penataan ruang, dan kesadaran masyarakat terhadap kondisi geografis setempat," kata dia.
(prf/ega)
Banjarnegara dan Cilacap Rawan Longsor, Telan Korban Terbanyak 10 Tahun Terakhir
2026-01-11 22:42:31
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 21:40
| 2026-01-11 21:36
| 2026-01-11 20:52
| 2026-01-11 20:24










































