BANDUNG, - Fenomena perundungan atau bullying dinilai semakin meresahkan dunia pendidikan, dengan pola yang tidak lagi hanya terjadi secara fisik, tetapi juga meluas ke ranah digital.Dampak serius dari bullying ini bahkan telah menelan korban jiwa.Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Didi Sukyadi menyatakan bahwa bullying masih menjadi persoalan krusial dalam sistem pendidikan di Indonesia.Meskipun berbagai upaya penanganan telah dilakukan, pemahaman mengenai dampak serius bullying terhadap korban belum sepenuhnya merata.Baca juga: Sembilan Santri Ponpes di Wonogiri Diamankan, Kasus Bullying Berujung Tewas"Saya tidak mengikuti detilnya ya, tetapi bagi saya ini merupakan bagian penting dari sistem pendidikan kita. Jadi sebetulnya kalau terkait bullying, sudah ada langkah-langkah yang dilakukan. Tetapi mungkin belum semua paham bahwa perilaku itu menimbulkan dampak yang serius bagi si korban.," ujar Didi.Didi menjelaskan bahwa bullying tidak selalu berbentuk kekerasan fisik; perilaku mengejek pun dapat dikategorikan sebagai perundungan, tergantung pada respons korban."Jadi ada yang mengatakan kalau seseorang mengejek orang lain kemudian dua-duanya ketawa, ketawa-ketawa, itu bukan bullying. Kalau yang satu ketawa, yang satu lagi cemberut, itu kan bisa termasuk disebut bullying," ucapnya.Ia menambahkan bahwa bullying di era modern ini jauh lebih mengkhawatirkan karena melibatkan ruang digital dan media sosial, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa.Baca juga: Sembilan Santri Ponpes di Wonogiri Diamankan, Kasus Bullying Berujung Tewas"Bullying di sekarang ini, kita kan sudah sampai kepada tahap yang sangat menggelisahkan. Sampai jatuh korban jiwa. Bahkan di Perguruan Tinggi sendiri ada mahasiswa saya, di sini di bahasa Inggris, yang meninggal gara-gara bullying," katanya.Kasus yang terjadi dua hingga tiga tahun lalu itu disebabkan korban tidak hanya mengalami perundungan di lingkungan kelas, tetapi juga di media sosial, yang berujung pada sakit hingga meninggal dunia."Yang bersangkutan dibully tidak hanya di kelas, tetapi di medsos juga di bully," katanya.Didi juga menyoroti ancaman baru dari penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terhadap psikologis individu.Menurutnya, AI kini mampu berperan layaknya profesi tertentu seperti psikolog, dokter, atau guru, namun tidak selalu mampu membedakan apakah saran yang diberikan berdampak positif atau negatif."Terkadang dari AI itu, mereka tidak bisa membedakan saran aman yang menimbulkan dampak positif atau negatif,," ujarnya.Baca juga: 3 Santri Jadi Pelaku Bullying Maut di Wonogiri, Korban Dianiaya karena Ogah MandiIa mencontohkan kasus di luar negeri yang menunjukkan dampak fatal dari penggunaan AI.
(prf/ega)
Dampak Bullying Bisa Mematikan, Rektor UPI Dorong Sekolah Tegaskan Batas dan Sanksi
2026-01-11 03:50:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:13
| 2026-01-11 03:11
| 2026-01-11 01:46
| 2026-01-11 01:46










































