KETEGANGAN yang terjadi dalam tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) beberapa pekan terakhir, menyita perhatian dan mengusik psikologi jamaah Nahdliyin di akar rumput.Rasanya sulit dibayangkan bahwa organisasi yang selama ini menjadi ikon keteduhan ulama justru sedang berada di tengah benturan dua arus kewenangan tertingginya: Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.Risalah dan keputusan Majelis Syuriyah yang menilai perlunya koreksi kepemimpinan hingga menyatakan nonaktifnya Ketua Umum, disusul konsolidasi nasional, penguatan dukungan kiai sepuh, dan pergantian Sekretaris Jenderal PBNU oleh pihak Ketua Umum sebagai respons, menunjukkan bahwa perbedaan telah berubah menjadi kontestasi legitimasi terbuka.Bagi banyak jamaah, ini bukan sekadar persoalan struktural. Ini persoalan rasa aman: apakah NU sedang teduh atau sedang terguncang?Publik tidak menilai NU lewat pasal AD/ART, tetapi lewat wajah para ulama. Dan ketika wajah itu tampak tegang, jamaah ikut gelisah.NU sesungguhnya pernah melalui fase seperti ini. Pada dekade 1980-1990, dua tokoh besar NU memiliki perbedaan yang sama-sama mendasar: KH As’ad Syamsul Arifin dan KH Idham Chalid, Ketua Umum PBNU saat itu.Baca juga: PBNU di Persimpangan JalanKH As’ad adalah kiai karismatik pesantren, penjaga khittah ulama. KH Idham Chalid adalah negarawan dan organisator ulung yang memahami dinamika politik nasional.Puncak dinamika terjadi ketika KH As’ad memandang perlunya penyegaran kepemimpinan demi maslahat jam’iyah.Namun, sejarah mencatat hal paling penting: ketegangan itu tidak pernah menjelma menjadi permusuhan. Tidak ada kontestasi terbuka, tidak ada saling memanggil dukungan jamaah, dan tidak ada langkah saling membatalkan legitimasi.Para ulama kala itu mengembalikan penyelesaian ke forum tertinggi dan paling beradab: Muktamar.Di titik ini, pelajaran historis tidak boleh berhenti sebagai ingatan nostalgia. Kaidah-kaidah ushul fiqh yang menjadi fondasi etika berorganisasi juga perlu dihidupkan sebagai penuntun logika dan sikap dalam menyikapi prahara PBNU hari ini.Pertama, Dar’ul maf?sid muqaddamun ‘al? jalbil ma??li?, menghilangkan kemudaratan lebih utama daripada meraih kemaslahatan.Konflik berkepanjangan membawa mudarat sosiopsikologis bagi jamaah: keresahan, polarisasi, erosi kepercayaan. Karena itu, langkah penyelesaian seharusnya lebih diarahkan untuk menghilangkan kerusakan, bukan memperbesar ketegangan.Kedua, Ta?arruful im?m ‘al?r-ra‘iyyah man??un bil-ma?la?ah, kebijakan pemimpin harus terikat pada kemaslahatan umat.Baca juga: Rais Aam Klaim PBNU Akan Segera Gelar MuktamarKeputusan apa pun, baik koreksi maupun konsolidasi, seyogianya tidak diarahkan pada pembuktian personal, tetapi pada pertanyaan: apakah jamaah terlindungi dan dimaslahati oleh keputusan ini?
(prf/ega)
Menjaga NU Tetap Teduh
2026-01-13 01:10:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-13 00:52
| 2026-01-13 00:29
| 2026-01-13 00:21
| 2026-01-12 23:34










































