Terjebak Banjir dan Longsor, Walkot Sibolga 2 Hari Tak Ada Kabar

2026-02-04 01:40:50
Terjebak Banjir dan Longsor, Walkot Sibolga 2 Hari Tak Ada Kabar
Ketua DPP NasDem teritori Aceh Bakhtiar Ahmad Sibarani mengaku tidak dapat berkomunikasi dengan Wali Kota Sibolga Akhmad Syukri Nazri Penarik. Syukri terakhir kali berkabar terjebak di Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah, Selasa lalu."Kami informasikan keberadaan Wali Kota itu, Senin (24/11) malam, dia dapat kabar ada curah tinggi di Sibolga dan dia yang sedang berkegiatan di Medan langsung pulang menuju Sibolga," sebut Bakhtiar, dilansir detikSumut, Kamis (27/11/2025).Bakhtiar kemudian menghubungi Syukri pada Selasa (25/11) pagi tapi tidak direspons. Setelah itu, kata Bakhtiar, Syukri mengirimkan pesan WhatsApp yang berisi soal dirinya terjebak di wilayah Sitahuis."Dia mengirim pesan soal kondisi yang terjebak di Sitahuis, dan tidak ada jaringan di sana," sebut Bakhtiar.Dari tangkapan layar dikirimkan Bakhtiar, Syukri terakhir kali mengirimkan pesan pada Selasa pukul 11.10 WIB. Di situlah dia menyampaikan kabar soal keberadaannya.Syukri tidak dapat menuju Sibolga karena banjir dan longsor. Dia juga tidak bisa balik ke arah Tapanuli Utara karena banjir dan longsor juga terjadi.Bakhtiar pun berharap agar kondisi Syukri baik-baik saja. "Itu informasi mengenai wali kota. Semoga semuanya baik-baik saja warga di Sibolga maupun Tapanuli Tengah," ungkapnya.Baca selengkapnya di siniLihat juga Video Tim SAR Evakuasi Warga Terdampak Banjir-Longsor di Sibolga-Tapteng[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-04 02:04