JAKARTA, - Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Cipinang Melayu, Heru Setiawan (46), mengungkapkan bahwa hasil panen dari lahan urban farming di kolong Tol Bekasi–Cawang–Kampung Melayu (Becakayu) sudah mulai dijual.Ia menjelaskan bahwa penjualan hasil urban farming dilakukan melalui kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta dalam kegiatan Pasar Tumbuh yang diselenggarakan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Timur.Menurut Heru, Pasar Tumbuh perdana menghasilkan sekitar Rp 500.000 dari penjualan pisang."Jadi kita bawa itu, pisang itu, pisang tanduk, ada empat tandan. Terus pisang kepok itu juga sama, ada empat tandan. Jadi, alhamdulillah kita duluan, kurang lebih dapet Rp 500.000," ungkap Heru Setiawan saat ditemui, Kamis .Baca juga: Ketika Air Hujan Kolong Tol Becakayu Jadi Irigasi Kebun Sayur"Kemarin itu laku per satu tandan Rp 60.000 sama Rp 50.000. Itu cuma dua sisir, berat 10 kg itu cuma dua sisir. Cuma sisirannya itu segini-gini gedenya," ungkapnya./Febryan Kevin PPSU sedang melakukan pembersihan lahan pertanian perkotaan di kolong tol Becakayu, Kamis .Heru juga menyampaikan bahwa pisang merupakan salah satu komoditas unggulan di Cipinang Melayu karena tidak banyak wilayah lain yang memilikinya."Pisang itu aja kurang lebih ada sekitar 15 jenis pisang, mulai dari pisang tanduk, tanduk aja saja beberapa jeni, terus kepok itu ada kepok kuning, kepok putih, banyak," jelasnya.Selain pisang, lahan urban farming juga menghasilkan berbagai sayuran seperti sawi, kangkung, singkong, cabai, jagung, tomat, hingga tanaman keras seperti tabebuya.Sementara itu, Kepala Seksi Ekonomi Pembangunan Kelurahan Cipinang Melayu, Era Hotmauli, menjelaskan bahwa hasil penjualan dimasukkan ke kas urban farming."Jadi kita itu hasil penjualan, itu biasanya kita masukkan dalam kas urban farming khusus untuk beli bibit dan biaya pupuk," jelas Era.Ia menambahkan, meski sebagian bibit dan pupuk disuplai KPKP, ada beberapa jenis pupuk yang tetap harus dibeli."Pupuknya itu, kalau yang misalnya NPK, terus Urea, itu biasanya tuh jarang, kita beli, yang sering menyuplai itu dari pihak KPKP kayak pupuk kandang, itu ada dari KPKP," tuturnya.Baca juga: 1,1 Hektar Kolong Tol Becakayu Disulap Jadi Kebun SayurSebelumnya, Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, memanfaatkan aliran air hujan dari kolong Tol Bekasi–Cawang–Kampung Melayu (Becakayu) untuk menyiram lahan urban farming yang dikelola di kawasan tersebut.Dari pantauan Kompas.com, area di bawah kolong Tol Becakayu dimanfaatkan sebagai lahan pertanian perkotaan dengan berbagai jenis tanaman.Jagung, terong, cabai, kangkung, bayam, hingga kacang koro tampak ditanam memanjang di bawah struktur jalan tol maupun di tepi Kalimalang.Tanaman-tanaman itu tersusun rapi di bedengan tanah, dilengkapi jalur air yang mengalirkan air hujan dari atas tol langsung ke area pertanian.Baca juga: Pramono Minta Lahan Urban Farming di Jakarta Dipertahankan dan DitambahAir yang tertampung diarahkan melalui parit yang disiapkan petugas PPSU agar proses penyiraman lebih mudah dan efisien.Namun demikian, penyiraman tambahan tetap dilakukan menggunakan air dari aliran Kalimalang ketika diperlukan.
(prf/ega)
Hasil Urban Farming Kolong Tol Becakayu Mulai Dijual, Raup Ratusan Ribu
2026-01-12 04:53:57
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:18
| 2026-01-12 04:02
| 2026-01-12 03:20










































