– Pukul 23.00 WIB, saat sebagian warga terlelap, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangasem Selatan, Batang, Jawa Tengah, justru mulai ramai.Puluhan relawan berbaju seragam biru muda berdatangan, mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap, mulai dari masker, hair net, hingga sarung tangan.Di ruang pengolahan, terlihat jagung segar yang baru tiba sedang dipipil. Sementara di dapur utama, aroma bumbu mulai tercium dari panci-panci besar yang mengepul.Di sudut lain, tim quality control (QC) bersiap memastikan setiap hidangan memenuhi standar gizi dan kelayakan konsumsi sebelum didistribusikan.Baca juga: Prabowo Targetkan 2.500 Dapur MBG di Papua Beroperasi 17 Agustus 2026Menariknya, mereka yang bekerja keras di balik dapur tersebut berasal dari berbagai latar belakang.Bangkit dari keterbatasan, 47 relawan yang ada di SPPG itu diberdayakan untuk menyiapkan ribuan porsi makanan bergizi yang ditujukan kepada anak-anak penerima program MBG.Di antara mereka ada Martini, mantan pedagang chicken katsu yang kini menjadi bagian tim pengolahan. Setiap malam, perempuan tersebut bertugas mengolah bahan mentah menjadi hidangan siap santap, mulai dari memotong sayuran hingga memasak menu utama untuk ratusan porsi.Martini mengaku bergabung sebagai relawan MBG karena omzet dagangannya terus merosot hingga sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari.Baca juga: MBG di Kendal Saat Libur Natal dan Tahun Baru Masih Mungkin Disalurkan ke Siswa, Ini Penjelasannya"Dulu saya berjualan chicken katsu di depan SDK Karangasem. Omzet jualan cenderung menurun sampai untuk kebutuhan sehari-hari saja susah, untuk kembali modal saja sudah alhamdulillah," ujar Martini.Kini, perempuan itu rutin bekerja mulai pukul 23.00 hingga pagi hari. Meski harus meninggalkan fleksibilitas sebagai pedagang, Martini merasa mendapat lebih dari sekadar gaji tetap."Di dapur ini, ibu-ibu rumah tangga seperti saya bisa meng-upgrade diri. Kami menggali potensi untuk lebih memahami masakan-masakan, baik masakan Nusantara maupun masakan dari luar," katanya.Martini mengaku senang bisa bekerja di SPPG tersebut karena keluarganya mendukung penuh. Ia juga merasa wawasannya bertambah setelah bekerja di dapur MBG.Baca juga: BGN Dorong Kepala SPPG Aktif Beri Edukasi Gizi Langsung ke SekolahSementara itu, Fachri, relawan lain yang merupakan penyandang disabilitas dengan keterbatasan fisik pada kaki, juga merasa diterima tanpa diskriminasi di SPPG Karangasem Selatan. Ia bergabung dengan motivasi mulia—mengabdi untuk negara dan membantu masa depan anak-anak Indonesia."Untuk fisik sih fleksibel aja. Di sini kan kami relawan sebagai tim, bukan individu. Maka dari itu, kami saling membantu bila ada yang dibutuhkan," ujar Fachri.Lingkungan kerja yang inklusif membuat Fachri merasa nyaman. Semua relawan tidak ada memandang usia atau kondisi fisik, bekerja sebagai satu keluarga besar yang saling tolong-menolong.
(prf/ega)
Cerita dari Dapur MBG Karangasem yang Berdayakan Relawan dari Berbagai Latar
2026-01-12 03:10:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:28
| 2026-01-12 02:26
| 2026-01-12 02:20
| 2026-01-12 02:15
| 2026-01-12 02:12










































