Hirup Udara Berpolusi Berpotensi Berdampak pada Kekebalan Tubuh

2026-02-05 09:26:53
Hirup Udara Berpolusi Berpotensi Berdampak pada Kekebalan Tubuh
- Polusi udara secara diam-diam mendorong sistem kekebalan tubuh menjadi autoimun, jauh sebelum penyakit muncul.Hal tersebut terungkap setelah peneliti melakukan studi terhadap 3.548 orang dewasa.Peneliti menemukan bahwa paparan polusi udara partikulat halus yang lebih tinggi dikaitkan dengan peningkatan antibodi antinuklear (ANA), penanda darah yang sering dikaitkan dengan penyakit autoimun seperti lupus.ANA adalah protein kekebalan yang secara keliru menargetkan sel-sel tubuh sendiri. Meskipun bukan diagnosis tersendiri, kadar yang lebih tinggi dapat menandakan perubahan kekebalan dini.“Hasil ini mengarahkan kita ke arah baru untuk memahami bagaimana polusi udara dapat memicu perubahan sistem kekebalan,” kata Dr. Sasha Bernatsky, seorang profesor kedokteran di Universitas McGill, yang memimpin penelitian ini, dikutip dari Earth, Rabu .Temuan ini menambah bukti yang berkembang bahwa polusi udara dapat memengaruhi sistem kekebalan, bukan hanya paru-paru dan jantung.Baca juga: Polusi Udara dari Kendaraan Diprediksi Picu 1,8 Juta Kematian Dini Pada 2060“Partikel-partikel halus dalam polusi udara ini cukup kecil untuk mencapai aliran darah, berpotensi memengaruhi seluruh tubuh,” kata Bernatsky.Partikel halus atau PM2,5 ini bisa dihasilkan asap, knalpot kendaraan, dan pembakaran industri.Lalu lintas merupakan sumber utama partikel halus, tetapi bukan satu-satunya alasan orang menghirup udara yang tercemar.Asap kebakaran hutan dan pembakaran kayu dapat mendorong kualitas udara ke tingkat yang tidak sehat di daerah pinggiran kota dan pedesaan, terkadang bertahan selama berhari-hari.Peristiwa asap musiman juga membentuk kembali pola paparan, artinya orang yang jarang mengalami kabut asap perkotaan masih dapat menghirup partikel dalam kadar tinggi selama musim kebakaran.Ketika terhirup, partikel dapat mengiritasi jaringan paru-paru dan memicu stres oksidatif, yaitu kelebihan bahan kimia reaktif yang merusak sel.Sel-sel imun merespons dengan melepaskan sitokin, protein kecil yang mengoordinasikan alarm imun, yang dapat masuk ke aliran darah.Genetika memang bisa menjadi penyebab penyakit autoimun, tetapi paparan lingkungan dapat menambah tekanan ekstra pada sistem kekebalan tubuh dari waktu ke waktu.Dengan latar belakang ini, penelitian menemukan tingkat positif ANA yang lebih tinggi pada wanita dan di berbagai kelompok ras dan etnis, bahkan setelah memperhitungkan faktor-faktor lain.Baca juga: Vitamin C Bantu Lindungi Paru-paru dari Dampak Polusi Udara


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

“Fitur ini dapat memberi kendali kepada pengguna untuk menetapkan batas waktu menonton Shorts. Intervensi kecil seperti ini penting untuk membantu anak dan remaja belajar mengatur diri, jelas Graham.Pantauan KompasTekno, area Mental Health Shelf dan fitur pembatasan Shorts memang sudah bisa dijajal di Indonesia.Seperti disebutkan di atas, rak Mental Health Shelf yang dilabeli From health sources akan muncul ketika pengguna memasukkan kata kunci yang berkaitan dengan penyakit mental.Baca juga: MTV Tutup Lima Channel Musik Akhir 2025, Tergeser YouTube dan Medsos?Sementara fitur pembatasan YouTube Shorts bisa diakses melalui menu pengaturan, tepatnya Settings > Time management > dan Shorts feed limit./Bill Clinten Fitur pembatasan waktu menonton Shorts yang baru dirilis YouTube di Indonesia.Country Head YouTube Indonesia, Suwandi Widjaja mengatakan kedua fitur ini merupakan komitmen YouTube untuk membantu remaja Indonesia membangun kebiasaan digital yang lebih sehat serta mengakses informasi yang lebih bertanggung jawab.Di Indonesia, Suwandi menyebut kesehatan mental remaja akan menjadi salah satu fokus dan perhatian YouTube di Indonesia.“Kami sangat serius dengan komitmen kami soal kesehatan mental, dan ini akan menjadi topik yang akan terus menjadi fokus YouTube ke depannya,” kata Suwandi./Bill Clinten Country Head YouTube Indonesia, Suwandi Widjaja dalam acara Beranda Jiwa di kantor Google Indonesia di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis .Meski jadi fokus YouTube di masa depan, Suwandi menambahkan bahwa dukungan kreator dan pakar menjadi elemen penting agar komitmen ini juga bisa dijalankan dengan baik.Baca juga: YouTube Sulap Video Burik Lawas Jadi Bening dengan AI“Kami membutuhkan bantuan dan kerja sama untuk melanjutkan komitmen kami dan program terkait kesehatan mental di masa depan, sekaligus memperluas jangkauannya,” pungkas Suwandi.

| 2026-02-05 07:25