Hadirkan 21 Kategori, JMTV Awards 2025 Bakal Digelar 18 Desember

2026-01-14 02:06:25
Hadirkan 21 Kategori, JMTV Awards 2025 Bakal Digelar 18 Desember
- Memasuki tahun ketiga Santini JMTV Awards (sebelumnya bernama JebreeetMedia Awards) kembali hadir sebagai penghargaan kepada insan olahraga Indonesia, meliputi atlet, pelatih, pegiat, dan para pelaku industrinya.Santini JMTV Awards 2025 menghadirkan 21 kategori dan lebih dari 130 nominasi yang seluruhnya telah dikurasi oleh para panelis.Jumlah kategori tahun ini masih sama dengan tahun lalu dengan beberapa perubahan.Namun, JMTV Awards 2025 memberikan porsi penghargaan yang lebih banyak kepada atlet dan pelatih, baik dari olahraga umum, esports, hingga atlet difabel. "Pembinaan dan prestasi atlet menjadi bagian dari tanggung jawab federasi masing-masing dan Kemenpora. Sementara, kami serta teman-teman swasta lain adalah pelaku kegiatan dalam industri olahraganya," kata CEO JMTV, Valentino Simanjuntak, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu .Baca juga: Taekwondo dan Kano Sumbang Emas, Indonesia Mulai Pecah Telur di SEA Games 2025"Dengan penyelenggaraan tahun ketiga ini harapannya kontribusi para stakeholder dunia olahraga bagi bangsa ini semakin diakui dan dikenal masyarakat luas," tambahnya.Menariknya, penghargaan tahun ini memisahkan atlet sepak bola dan non sepak bola di kategori pria.Pada kategori Atlet Sepak Bola Pria Terfavorit, bersaing nama-nama seperti Jay Idzes, Emil Eudero, Asnawi Mangkualam, Pratama Arhan, Beckham Putra, dan Rizky Ridho.Sementara, di kategori Atlet Non Sepak Bola Terfavorit, terdapat Boy Arnez, Jonatan Christie, Kiromal Katibin, Fajar Alfian, Rahmat Erwin Abdullah, dan Rizky Juniansyah."Ini kami lakukan karena dari penyelenggaraan sebelumnya, ketika disatukan nominasinya dengan cabang olahraga sepak bola, dari cabang olahraga lain selalu kalah," kata Valentino."Akhirnya, kami memutuskan untuk memisahkan. Jadi, yang kategori sepak bola bersaing dengan sesamanya," ungkap dia.Baca juga: Hasil Final Badminton SEA Games 2025: Tim Putri Indonesia Raih PerakMenariknya, pemilihan nominasi tahun ini juga melibatkan netizen. Kontibusinya bahkan mencapai 50 persen."Di setiap tiga besar yang dipilih netizen itu sama dengan radar kami. Jadi, sekitar 50 persen yang disampaikan netizen juga sama dengan kami," ucap Valentino.Terobosan JMTV Awards 2025 tak hanya di situ saja. Penghargaan tahun ini juga memunculkan kategori esports yang hadir di dua kategori, yakni Game Esports Terfavorit dan Atlet Esports Terfavorit.Game seperti Mobile Legends, PUBG, Valorant, Counter Strike, Dota, dan Free Fire bersaing di kategori Game Esports Terfavorit.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-14 01:14