AirNav Pastikan Erupsi Semeru Tak Ganggu Penerbangan

2026-02-03 15:50:47
AirNav Pastikan Erupsi Semeru Tak Ganggu Penerbangan
JAKARTA, - AirNav Indonesia memastikan erupsi Gunung Semeru tidak mengganggu operasional penerbangan di wilayah sekitarnya. Seluruh rute berjalan normal dan tidak ada bandara yang ditutup.EVP Corporate Secretary AirNav Indonesia, Hermana Soegijantoro, menyampaikan Semeru berstatus level IV (awas) dan mengeluarkan abu vulkanik di dua ketinggian. Meski begitu, bandara di sekitar kawasan tetap beroperasi tanpa gangguan.“Sampai informasi ini kami terbitkan, situasinya belum pada kondisi yang memaksa untuk dilakukannya penutupan ruang udara karena ancaman awan abu vulkanik,” ujar Hermana, Kamis .Baca juga: Gunung Semeru Erupsi, Jalur Pendakian Ditutup dan Pendaki Diminta TurunIa menegaskan operasional di Malang, Banyuwangi, Surabaya, dan Yogyakarta berjalan normal. Tidak ada penutupan bandara atau pembatalan penerbangan.AirNav tetap melakukan pemantauan ketat terhadap rute dan bandara yang berpotensi terdampak. Informasi pembaruan disampaikan melalui ASHTAM, pemberitahuan mengenai erupsi dan sebaran abu vulkanik yang bisa memengaruhi penerbangan.AirNav telah mengeluarkan ASHTAM nomor VAWR6038 pada pukul 09.00 WIB. Laporan itu menyebut Semeru berada pada status “Red Code”, yang menandakan letusan signifikan dan potensi gangguan terhadap jalur udara.Abu vulkanik terpantau di dua ketinggian. Pada level rendah, sebaran abu berada dari permukaan hingga FL150 atau sekitar 4.500 meter dan bergerak ke tenggara dengan kecepatan angin lima knot.Pada level tinggi, abu berada hingga FL450 atau sekitar 13.500 meter dan bergerak ke barat daya dengan kecepatan 15 knot.Baca juga: 200 Rumah Warga Terdampak Erupsi Semeru, 21 Rusak ParahAirNav mencatat abu pada level tinggi semakin sulit diamati karena tertutup awan. Model pergerakan menunjukkan abu berpotensi melemah dalam beberapa jam. Sebaran abu pada level rendah masih terpantau jelas dan bergerak ke tenggara.“Trennya saat ini, sebaran abu vulkanik semakin bergerak menjauh dari bandara-bandara sekitar dan rute penerbangan yang berpotensi terdampak,” kata Hermana.AirNav juga menghimpun hasil paper test dari Angkasa Pura Indonesia dan Kantor Otoritas Bandara pada beberapa bandara terdekat, seperti Abdurrahman Saleh Malang, YIA, Adisutjipto Yogyakarta, dan Adi Soemarmo Solo. Semua hasilnya negatif.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-02-03 13:47