KETIKA berbicara tentang masa depan Indonesia, sering kali bangsa ini terjebak pada perdebatan tentang teknologi, infrastruktur, atau investasi.Padahal, jika mau jujur menengok cermin, kondisi Indonesia hari ini sesungguhnya adalah hasil kualitas pendidikan kita puluhan tahun lalu.Negara-negara yang kini banyak menjadi acuan bangsa lainnya di dunia seperti Singapura, Jepang, atau Korea Selatan tidak melesat begitu saja. Mereka bergerak maju karena menanam investasi besar-besaran pada guru sejak lama.Itu sebabnya ketika semua orang melihat ketertiban masyarakat Jepang, daya saing teknologi Korea, atau kualitas pelayanan publik Singapura, sesungguhnya yang terlihat adalah buah dari ruang kelas mereka tiga puluh hingga empat puluh tahun yang lalu.Mendikdasmen Abdul Mu’ti sudah sering mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh dibaca sebagai agenda lima tahunan. Pendidikan adalah proyek lintas generasi.Apa yang diajarkan hari ini baru benar-benar terasa ketika murid-murid yang diajar menjadi pemimpin, peneliti, teknokrat, atau warga yang membangun peradaban.Itulah mengapa Mendikdasmen dengan tegas menempatkan guru sebagai pusat perubahan. Bagi pemerintah saat ini, guru bukan sekadar profesi, tetapi mandat sejarah.Dan pandangan itu kini tercermin dalam kebijakan Kemendikdasmen yang mulai menempatkan penguasaan koding, kecerdasan artifisial, dan STEM sebagai literasi baru yang wajib dimiliki guru Indonesia.Baca juga: AI: Alat Vs CanduPemerintah bertekad fokus pada peningkatan kompetensi koding, kecerdasan artifisial, matematika gembira, STEM, dan pembelajaran mendalam menjadi bagian dari strategi nasional.Apa yang dilakukan pemerintah hari ini, sesungguhnya upaya mengejar waktu yang pernah hilang. Indonesia tidak perlu malu mengakui hal ini, dalam banyak aspek, Indonesia masih terlambat.Sementara Jepang mulai membangun budaya riset sejak awal 1970-an dan Singapura mengembangkan sekolah negeri berbasis sains dan teknologi secara sistematis sejak 1980-an, Indonesia masih berkutat pada persoalan-persoalan dasar.Namun, terlambat bukan berarti tidak bisa mengejar. Dunia pendidikan juga mengenal momentum perubahan, dan Indonesia kini memiliki momentum itu.Salah satu kekuatan negara-negara maju adalah konsistensi dalam menjaga kualitas guru. Di Singapura, proses menjadi guru begitu ketat karena mereka percaya bahwa kualitas pendidikan tidak pernah melebihi kualitas guru.Jepang menerapkan budaya lesson study sejak puluhan tahun lalu, sehingga guru tidak pernah berhenti belajar dari kolega mereka.Di Korea Selatan, profesi guru dihormati seperti halnya dokter atau insinyur. Ketika dasar penghormatan itu kuat, inovasi pendidikan tumbuh dengan sendirinya.
(prf/ega)
Mencerdaskan Guru, Memperbaiki Kehidupan Bangsa
2026-01-12 04:21:55
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:48
| 2026-01-12 03:33
| 2026-01-12 03:29
| 2026-01-12 03:08
| 2026-01-12 03:04










































