Pengalaman Naik KRL Solo-Yogya Saat Libur Natal, Siapkan Kekuatan Kaki

2026-01-14 08:53:12
Pengalaman Naik KRL Solo-Yogya Saat Libur Natal, Siapkan Kekuatan Kaki
– Yogyakarta jadi salah satu destinasi wisata favorit masyarakat Kota Solo untuk mengisi liburan.Terlebih, perjalanan ke Yogyakarta bisa ditempuh dengan mudah dari Kota Surakarta naik KRL Solo-Yogya.Ditambah, jarak Stasiun Tugu Yogyakarta yang dilalui KRL ini jaraknya dekat dengan ikon wisata Yogya, yakni Malioboro.Baca juga: 11 Kuliner Pasar Ngasem Yogyakarta, Makanan Berat hingga Jajanan Manis!Oleh karena itu saat musim liburan, KRL Solo-Yogya kemungkinan besar akan penuh dengan wisatawan.Hal itu Kompas.com buktikan saat menjajal naik KRL Solo-Yogya pada libur Natal, Kamis .Saya memulai perjalanan naik KRL dari Stasiun Purwosari, Kota Surakarta pada Kamis itu pukul 09.13 WIB.Saat kereta sampai Stasiun Purwosari, kondisinya memang cukup ramai. Saya tidak mendapat tempat duduk./ANGGARA WIKAN PRASETYA Penumpang Menunggu KRL di Stasiun Purwosari, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Kamis .Namun, kondisi kereta masih cukup lengang. Penumpang yang berdiri tidak berdesak-desakan.Hal itu juga diakui penumpang lain bernama Ari yang saya ajak mengobrol sewaktu di dalam kereta.Baca juga: Ada Proyek Rehabilitasi, Kedai Kopi Jalanan di Jembatan Kewek Yogyakarta Ditertibkan“Ini cukup lengang. Dulu saya pernah naik pas hari Minggu (libur akhir pekan biasa), dan rame banget dari Purwosari, sudah kayak pepes di dalam kereta,” ujar dia kepada Kompas.com di dalam KRL Solo-Yogya, Kamis.Ia menduga, cukup lengangnya KRL kali ini disebabkan karena umat Kristen sedang beribadah Natal di gereja.Saat mengira KRL akan cukup lengang sampai tujuan, prediksi saya akhirnya salah. Ternyata saat kereta berhenti di stasiun-stasiun pemberhentian, kereta makin penuh.Banyak orang yang naik dari stasiun-stasiun menuju Yogyakarta, seperti Delanggu dan Klaten. Bahkan, ada penumpang yang naik dari Stasiun Brambanan yang lokasinya tidak jauh lagi dari Yogyakarta.Baca juga: Pantai di DIY Jadi Favorit Saat Nataru, Wisatawan Waspada Rip Current!Alhasil KRL Solo-Yogyakarta yang saya tumpangi saat itu menjadi penuh sesak. Penumpang mulai berkurang saat kereta tiba di Stasiun Maguwo.KRL akhirnya sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta pukul 10.30 WIB atau setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam 15 menit. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-14 08:18