LPEM UI: Laki-laki Lebih Putus Asa Cari Kerja, Bukan Gagal yang Bikin Tumbang

2026-02-04 19:31:50
LPEM UI: Laki-laki Lebih Putus Asa Cari Kerja, Bukan Gagal yang Bikin Tumbang
- Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) mengungkap bahwa lebih banyak laki-laki putus asa mencari pekerjaan dibanding perempuan.Berdasarkan riset yang dilakukan pada 2025, persentasi laki-laki yang putus asa mencari pekerjaan sebesar 69 persen, sementara perempuan 31 persen.LPEM UI menilai fenomena tersebut menarik sebab, biasanya, perempuan-lah yang lebih dominan tidak bekerja atau tidak mencari pekerjaan.Menurut para peneliti, keputusasaan itu terkait dengan beban laki-laki yang kerap kali diminta lebih menanggung beban keluarga."Tekanan norma gender ini menempatkan laki laki dalam posisi yang lebih rentan ketika proses pencarian kerja berulang kali gagal," demikian tertulis dalam laporan tersebut.Meski demikian, fenomena itu umum di negara berkembang, seperti temuan International Labor Organization (ILO)."Laki laki yang tersingkir dari pekerjaan formal sering mengalami penurunan motivasi pencarian kerja akibat kombinasi stagnasi upah, kompetisi yang semakin ketat, dan keterampilan yang tidak lagi cocok dengan struktur ekonomi yang berubah," demikian laporan yang dirilis pada akhir November lalu tersebut.Baca juga: 3 Pekerjaan Hijau Paling Menjanjikan di Indonesia, Bisa Dapat Gaji BesarDi Indonesia, sektor yang fokus pada tenaga kerja dengan keterampilan rendah yang jadi pintu masuk bagi tenaga kerja laki laki, seperti konstruksi, menghadapi tekanan permintaan yang berfluktuasi.Meski persentasenya lebih rendah, keputusasaan perempuan juga patut jadi perhatian. "Berbeda dengan laki laki, faktor discouragement pada perempuan sering bersinggungan dengan keterbatasan struktural yang sudah lama terbentuk, seperti kurangnya dukungan pengasuhan, norma sosial mengenai peran domestik, dan diskriminasi usia serta status perkawinan dalam proses rekrutmen," demikian tertulis. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan menunjukkan bahwa sebab keputusasaan tidak cuma pasar kerja yang sulit dan keterampilan yang tidak sesuai, tetapi juga norma gender."Dari sudut pandang kebijakan, membaca pola ini penting agar intervensi tidak bersifat netral gender. Laki laki membutuhkan akses peningkatan keterampilan dan informasi pasar kerja yang lebih kuat, sedangkan perempuan membutuhkan dukungan transisi kerja yang lebih ramah kebutuhan pengasuhan dan bebas diskriminasi," demikian tertulis dalam laporan tersebut.Baca juga: 1,87 Juta Rakyat Sudah Putus Asa, Negara Telat Ciptakan Pekerjaan Berkualitas


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-04 18:32