SEMARANG, - Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan bahwa setelah Sumatera Barat, hujan ekstrem kini telah bergerak ke Sumatera Utara, berdampak pada empat hingga lima Daerah Aliran Sungai (DAS).DAS Batang Toru menjadi yang paling terdampak dan menarik perhatian internasional.“Yang paling krusial adalah DAS Batang Toru yang menjadi sorotan internasional. Karena di sana konon ada orang utan Tapanuli yang jumlahnya juga terus kita pertanyakan,” ujar Hanif dalam sambutannya di UI GreenMetric Indonesia Awarding 2025 di Muladi Dome, Universitas Diponegoro, Selasa .Baca juga: Deforestasi Kaltim Capai 44.000 Hektar di 2025, DLH Tak Punya Kewenangan RehabilitasiHanif menjelaskan bahwa DAS Batang Toru memiliki luas sekitar 340.000 hektar, namun tutupan hutannya hanya mencapai 38 persen."Dari posisi 340.000 (hektar) DAS di Batang Toru tadi, tutupan hutannya hanya berjumlah 38 persen. Terjadi deforestasi yang cukup sangat serius untuk daerah aliran sungai di Sumatera Utara, terutama pada lima DAS di sisi selatannya," tambahnya.Analisis citra satelit menunjukkan bahwa sekitar 15.000 hektar hutan telah berubah menjadi non-hutan dalam kurun waktu 2009 hingga 2024.“Ini diperparah dengan kondisi geomorfologi kita dan curah hujan untuk Sumatera Utara yang rata-rata mencapai 110 milimeter per hari selama empat hari,” lanjutnya.Baca juga: Dunia Kehilangan Hutan Setara 18 Lapangan Bola per Menit, Ini Dampak DeforestasiSetelah menghantam Sumatera Barat, hujan dengan intensitas yang sama di Sumatera Utara telah mengakibatkan satu desa di sekitar DAS Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, hilang.“Dengan posisi landscape yang sangat terjal itu, maka kemudian di daerah DAS Garoga satu desa benar-benar hilang,” ungkapnya.Hanif menjelaskan bahwa desa tersebut terletak di tengah Sungai Garoga dan kemungkinan merupakan wilayah endapan banjir purba yang kembali terulang. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja Foto udara kondisi sekitar jembatan darurat di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Kamis . Warga masih melintasi jembatan darurat dari batang kayu akibat jalan dan jembatan penghubung antara Kabupaten Tapanuli Selatan menuju Tapanuli Tengah-Sibolga serta Medan putus diterjang banjir bandang pada Selasa . “Satu desa hilang karena memang hujan yang cukup tinggi, kemudian dinding yang berdiri dan ada laju deforestasi yang cukup serius,” ucapnya.Dalam kesempatan tersebut, Hanif juga mengungkapkan tiga faktor penting yang memperparah terjadinya bencana di Sumatera Utara."Mulai dari antropogenik kita, dari kultur kita, budaya kita yang telah melakukan kegiatan deforestasi yang cukup luas," bebernya.Baca juga: Menteri LH Sebut Faktor Kultur dan Budaya Picu Deforestasi dan Bencana di SumateraIa menambahkan bahwa dari segi geomorfologi, Sumatera bagian Utara berada dalam kondisi yang tidak stabil.Terakhir, Hanif menilai faktor hidrometriologi yang terlihat jelas melalui siklon atau topan yang jarang terjadi di daerah-daerah dengan lintang rendah, termasuk Indonesia."Kita berada di daerah tropis. Kemudian kita merupakan daerah kepulauan. Sehingga dengan demikian kita merupakan negara yang sangat riskan terhadap perubahan iklim ini," pungkasnya.
(prf/ega)
DAS Batang Toru Jadi Sorotan, Menteri LH Ungkap Deforestasi Serius di Sumut Sebabkan 1 Desa Hilang
2026-01-13 07:17:16
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-13 07:04
| 2026-01-13 06:38
| 2026-01-13 05:41
| 2026-01-13 05:11










































