Filipina Terseret Penembakan Bondi, Sarang Kelompok Ekstremis Jadi Sorotan

2026-01-12 06:27:53
Filipina Terseret Penembakan Bondi, Sarang Kelompok Ekstremis Jadi Sorotan
MANILA, - Nama Filipina terseret dalam insiden penembakan Bondi Beach di Sydney, Australia, yang menewaskan 15 orang pada Minggu .Kedua pelaku, Sajid Akram (50) dan putranya, Naveed Akram (24), sempat menjalani latihan milisi di Filipina sebulan sebelum beraksi.Wilayah Mindanao di Filipina selatan selama puluhan tahun memang menjadi sarang konflik bersenjata dan kelompok ekstremis, menurut laporan kantor berita AFP.Baca juga: Penembak Bondi Beach Ternyata Ikut Latihan Militer di Asia Tenggara Sebelum SeranganNamun, Pemerintah Filipina menegaskan, belum ada bukti kuat yang mengaitkan kunjungan keluarga Akram dengan pelatihan militan.SKY NEWS via NEW YORK POST Pelaku penembakan Bondi Beach, Naveed Akram (kiri) dan Sajid Akram (kanan). Keduanya adalah ayah dan anak. Insiden ini menewaskan sedikitnya 15 orang di Sydney, Australia, Mnggu .Mindanao terletak di selatan Filipina yang dihuni sekitar lima juta orang. Sejak masa penjajahan Spanyol dan Amerika Serikat (AS), kawasan ini menjadi lokasi perlawanan bersenjata yang berlangsung hingga abad ke-21.Setelah Filipina merdeka, pemberontakan separatis pecah pada awal 1970-an. Kurangnya penegakan hukum, perbatasan terbuka, serta kepemilikan senjata api yang meluas menciptakan ruang bagi lahirnya kelompok bersenjata.Pada awal 1990-an, sejumlah prajurit muda memisahkan diri dari gerakan separatis dan membentuk kelompok ekstrem seperti Abu Sayyaf.Kelompok ini dikenal karena aksi pengeboman warga sipil serta penculikan terhadap wisatawan asing.Setelah serangan 11 September 2001 di Amerika, penasihat militer AS mulai diterjunkan ke Mindanao untuk membantu Pemerintah Filipina memerangi kelompok tersebut.AFP/MARK NAVALES Dalam foto yang diambil pada September 2016 ini terlihat beberapa prajurit AD Filipina bersiaga di dekat kendaraan lapis baja di sebuah kamp militer di Jolo, prosvinsi Sulu, di pulau Mindanao, yang menjadi basis kelompok militan Abu Sayyaf. Pada 2014, kelompok seperti Abu Sayyaf dan Maute menyatakan loyalitas kepada kelompok ISIS, menandai babak baru ekstremisme di kawasan itu.Upaya damai mulai menunjukkan hasil ketika generasi tua milisi menandatangani perjanjian damai pada 2014.Mereka menerima pembentukan Daerah Otonomi Bangsamoro sebagai bentuk pemerintahan sendiri di beberapa provinsi.Namun, kelompok yang terafiliasi dengan ISIS tidak mengakui perjanjian tersebut dan terus melakukan perlawanan bersenjata.Meski pemerintahan otonom Bangsamoro akan memiliki parlemen terpilihnya sendiri, proses pelucutan senjata berjalan lambat.Konflik antarkeluarga bersenjata di wilayah itu pun masih kerap menimbulkan korban jiwa, termasuk dari kalangan militer dan kepolisian.Baca juga: Pelaku Penembakan Bondi Beach Sempat ke Asia Tenggara, Mengaku Warga India


(prf/ega)