LamSel Fest 2025 Hadirkan Jet Ski Lintas Selat, Musisi Nasional, hingga Rekor MURI

2026-01-14 20:08:52
LamSel Fest 2025 Hadirkan Jet Ski Lintas Selat, Musisi Nasional, hingga Rekor MURI
– Lampung Selatan siap menorehkan sejarah. Rombongan jet ski akan menyeberangi Selat Sunda dari Merak ke Bakauheni untuk pertama kalinya.Aksi spektakuler tersebut menjadi gong pembuka Lamsel Fest 2025, pesta rakyat dalam rangka HUT ke-69 Lampung Selatan yang akan diselenggarakan di Lapangan Korpri, Kalianda, Lampung Selatan, mulai Jumat sampai Minggu .Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Pariwisata Zita Anjani menyampaikan, aksi jet ski tersebut membawa pesan simbolis yang menandakan Lampung Selatan telah berkembang menjadi destinasi wisata.“Ini pertama kalinya dalam sejarah HUT Lampung Selatan jet ski menyeberangi Selat Sunda. Aksi ini melambangkan posisi Lampung Selatan sebagai gerbang yang menghubungkan budaya, wisata, dan peluang ekonomi antara Jawa dan Sumatera,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis .Selain aksi lintas selat yang dipimpin oleh Zita Anjani, Verrel Bramasta, dan Audrey The King of Jungle, pesta rakyat itu juga akan mencetak sejarah dengan pemecahan rekor MURI untuk Tari Tuping kolosal yang diikuti 1.500 peserta.Panggung utama akan diisi oleh deretan musisi nasional setiap malam, termasuk Silet Open Up feat Diva Aurel, Kerispatih, Drive, Aldi Taher feat Om Abidin, dan puluhan penampil lainnya.Bupati Lampung Selatan H Radityo Egi Pratama, SSos, MM, mengumumkan bahwa Lamsel Fest merupakan persembahan untuk rakyat dan mengundang seluruh masyarakat untuk hadir memeriahkan pesta rakyat tersebut."Ini adalah persembahan untuk rakyat. Seluruh rangkaian acara Lamsel Fest 2025 ini gratis dan terbuka untuk umum. Mari kita rayakan bersama," ajaknya.Rangkaian acara lain, seperti Parade Budaya 17 Kecamatan, Fun Run, serta Expo dan Bazaar UMKM juga siap memanjakan seluruh pengunjung Lamsel Fest 2025.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-14 19:38