KUPANG, — Matahari belum terbit ketika YB (32) sudah berdiri di tepi jalan protokol, Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).Udara masih lembab, angin pagi menyeruak di sela-sela rumah dan lampu-lampu kendaraan yang melintas menjadi petunjuk bahwa hari mulai bergerak.Di antara deru mesin ojek dan angkutan kota yang bergegas menuju pusat kota, YB memeluk tas berisi buku pelajaran Bahasa Inggris.Pagi itu, seperti banyak pagi lainnya, ia sedang menunggu angkutan yang tidak lazim untuk ukuran seorang guru: truk pasir.Baca juga: Cerita Gebya, Jejak Seorang Guru dari Ladang Sawit Sabah Malaysia yang Perjuangkan Pendidikan Anak TKI“Saya harus berangkat jam enam. Naik ojek dulu Rp 5.000. Setelah itu tunggu truk pasir ke arah Kabupaten Kupang,” ujarnya pelan, kepada Kompas.com, Rabu .Kadang truk yang datang adalah dump truk, kadang truk bermuatan penuh pasir, kadang juga bus Damri. Apa pun yang berhenti, selama arahnya sama, itulah yang ia tumpangi.“Bayarnya Rp 10.000. Kalau dihitung pulang-pergi, termasuk makan, bisa habis Rp 50.000 sehari,” katanya.Perjalanan itu ditempuh saban hari, atau setidaknya 3–4 kali seminggu, tergantung jadwal mengajar dan piket di sekolah. Jarak dari rumahnya ke sekolah sekitar 50 kilometer.Baginya, perjalanan adalah bagian dari rutinitas. Bagian yang tidak bisa dihindari.Sejak 2021, YB mengajar sebagai guru honorer di sebuah SMA negeri di Kabupaten Kupang.Ia mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris. Namun pendapatan bulanannya tidak pernah lebih dari Rp 300.000.“Dari Komite satu jam itu Rp 5.000. Dari dana BOS Rp 15.000. Kadang cuma dapat empat jam dari Komite, 16 jam dari BOS,” jelasnya.Baca juga: Cerita Nono Guru di Cirebon, Jalani 3 Pekerjaan Sekaligus untuk Penuhi KebutuhanDengan penghasilan itu, kebutuhan dasar pun tak terpenuhi. Satu karung beras tak terbeli, biaya transportasi harian jauh lebih besar daripada gaji bulanannya dan kebutuhan pribadi sebagai perempuan seringkali harus ditunda.“Kalau dihitung-hitung, untuk hidup saja tidak cukup, apalagi untuk bantu keluarga,” katanya.Namun YB tidak menyerah. Bahkan, ia masih sering meminjam dari orang tua atau kenalan hanya agar bisa berangkat mengajar.
(prf/ega)
Perjuangan Guru Honorer Perempuan di Kupang, Menumpang Truk Pasir Sejauh 50 Kilometer untuk Mengajar
2026-01-11 14:47:03
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 15:20
| 2026-01-11 14:23
| 2026-01-11 14:01










































