Perbanas Prediksi Kredit Bank Tumbuh 9-11 Persen pada 2026, Tanda Daya Beli Mulai Pulih?

2026-01-11 03:31:52
Perbanas Prediksi Kredit Bank Tumbuh 9-11 Persen pada 2026, Tanda Daya Beli Mulai Pulih?
JAKARTA, - Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memproyeksikan penyaluran kredit perbankan melonjak pada 2026 sejalan dengan perbaikan makro ekonomi nasional. Perkiraannya kredit tumbuh 9-11 persen dibandingkan 2025. Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, mengatakan kredit di tahun depan diprediksi tumbuh lebih baik dibandingkan tahun ini atau berada di kisaran 9-11 persen. Pasalnya dorongan aktivitas ekonomi lebih kuat di tahun mendatang. Perbaikan pertumbuhan ekonomi biasanya tercermin dari meningkatnya penyaluran kredit perbankan. “Dan tentunya kalau pertumbuhan ekonomi lebih baik, salah satu parameternya adalah juga kredit perbankan tumbuh. Tapi disini dari kajian kita, kita melihat bahwa kredit perbankan mungkin tumbuh lebih baik dibandingkan 2025, tapi kelihatannya antara angkanya berkisar 9 sampai 11 persen gitu ya,” ujar Hery saat konferensi pers terkait CEO Forum Economic Outlook 2026, Jakarta Selatan, Rabu . Kinerja perbankan nasional sepanjang tahun ini memang menunjukkan perlambatan. Sejumlah indikator memperlihatkan target pertumbuhan kredit dan laba semakin sulit tercapai, bahkan diperkirakan tidak akan menyamai capaian tahun lalu. Baca juga: Likuiditas Melimpah tapi Kredit Seret, Perbanas: Pengusaha Wait and See Data Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit perbankan per Oktober 2025 hanya 7,36 persen secara tahunan. Angka ini jauh dari harapan pertumbuhan dua digit. Kondisi serupa terlihat pada sepuluh bank terbesar. Hanya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang mampu mencatat kenaikan pembiayaan di atas 10 persen, masing-masing 11,08 persen dan 13,01 persen. Tren perlambatan juga muncul pada profitabilitas. Hanya PT BTN (Persero) Tbk dan PT Bank Danamon yang mencatat pertumbuhan laba dua digit, yakni 13,73 persen dan 10,53 persen. Beberapa bank besar justru mengalami penurunan. Laba PT Bank Mandiri (Persero) Tbk turun 9,7 persen, sementara PT BNI (Persero) Tbk merosot 6,35 persen pada periode Januari-Oktober 2025. Baca juga: Perbanas: Arahan Naikkan Bunga Deposito Valas Tekan Rupiah Lebih jauh, Hery mencatat sejumlah analis masih memperkirakan pertumbuhan kredit hanya berada di level satu digit. Namun, ia menilai proyeksi yang mengarah ke batas atas single digit hingga mendekati double digit. “Dan beberapa analis menyebutkan bahwa masih tetap tumbuh single digit, tapi single digit yang diatas,” paparnya. Ia menjelaskan kondisi perbankan saat ini berada dalam posisi yang relatif kuat. Pada September 2025, rasio kecukupan modal (CAR) perbankan tercatat sekitar 26 persen, menunjukkan kapasitas yang besar untuk ekspansi. Di sisi lain, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) berada di rentang 2,2-2,4 persen. Baca juga: Arah Wall Street Pekan Ini: Investor Tunggu Sinyal Daya Beli Konsumen AS Kinerja tersebut menandakan sektor perbankan terus membaik, meski pertumbuhan kredit masih bersifat moderat. Ia berharap percepatan kredit dapat terlihat mulai tahun depan, terutama jika pemerintah menggelontorkan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih ekspansif, termasuk dukungan pembiayaan melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). “Dan kalau sektor riil bergerak ya, kemudian kredit perbankan juga akan ikut mendukung hal itu,” beber Hery. Meski demikian, daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah masih berada dalam tekanan menjelang tutup tahun 2025. Pemulihan konsumsi menjadi kunci untuk memastikan pertumbuhan kredit dapat lebih kuat dan berkelanjutan. “Kita juga tahu bahwa daya beli masyarakat menengah kebawah juga agak terganggu, kurang kuat lah dibandingkan tahun-tahun yang lalu. Harapannya memang ke depan 2026 ini harapannya sih pertumbuhan ekonomi diharapkan lebih baik dibandingkan 2025,” ucapnya.


(prf/ega)