MERANGIN, – Dinas Pendidikan Kabupaten Merangin, Jambi, menyesalkan tindakan kekerasan yang menimpa Paimen, guru SMP Negeri 32 Merangin. Ia diduga dipukul seorang penambang emas yang masuk ke lingkungan sekolah.Plt Kepala Dinas Pendidikan Merangin, Juhendri, meminta aparat penegak hukum mengusut kasus ini sampai tuntas agar pelaku mendapat efek jera.“Semua pemimpin lahir dari guru. Jadi sangat menyedihkan ketika guru kami disakiti,” katanya saat ditemui, Senin .Baca juga: Suasana Belajar di SMPN 32 Merangin Mencekam, Seorang Guru Jadi Korban PenganiayaanMenurut Juhendri, peristiwa tersebut berpotensi menimbulkan trauma bagi guru dan siswa. Ia menegaskan sekolah harus menjadi ruang aman bagi proses belajar mengajar."Ya kita khawatir, sekolah itu butuh kenyamanan, keamanan, apabila itu terganggu otomatis, itu tidak bisa berjalan dengan apa yang diharapkan," ucapnya.Ia juga mengingatkan agar setiap persoalan diselesaikan di rumah atau kantor desa, bukan dibawa ke area sekolah.Sulasiah, guru SMP Negeri 32 Merangin, turut menyayangkan tindakan pelaku. Ia mengaku khawatir siswa ikut terdampak, sementara para guru kini merasa was-was.“Kalau sekarang kayaknya sudah tidak. Kalau kami, dibilang trauma, bisa dibilang seperti itu, juga tidak. Kalau ada tamu jadi was-was, takut tersangkut dalam masalah ini,” ungkapnya.Suasana belajar di SMP Negeri 32 Merangin, Jambi, berubah mencekam pada Jumat ketika seorang guru bernama Paimen menjadi korban penganiayaan penambang emas ilegal berinisial A. Insiden terjadi tepat di depan ruang kelas saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.Sejumlah murid dan guru yang menyaksikan langsung kejadian tersebut panik. Beberapa siswa bahkan berlari ketakutan saat melihat pelaku kembali membawa sebatang kayu sepanjang 1,5 meter.DOKUMENTASI/TANGKAPAN LAYAR Kondisi Paimen saat dibawah ke RSUD Kolonel Abujani, Merangin, Jambi, Jum'at .Kejadian bermula ketika Paimen dipanggil A saat mengajar kelas 9.Pelaku, yang merupakan pemilik ekskavator PETI, mempertanyakan persoalan jalan yang melewati lahan milik Paimen. A selama ini kerap memobilisasi alat berat melalui lahan tersebut.Meskipun awalnya tidak keberatan, Paimen kemudian menawarkan agar sebagian lahannya dibeli untuk menghindari masalah di masa depan.“Makanya kita beri opsi dia silakan beli tanah kita sesuai ukuran jalan. Awalnya disepakati, kita tetapkan dengan harga 28 juta. Tahu-tahu, dia menyampaikan tidak jadi lewat pesan WA (WhatsApp). Berarti seharusnya masalah selesai,” kata menantu Paimen, Saidina, pada Senin .Namun, masalah tidak berhenti di situ. Dua pekan setelah pesan WA tersebut, A mendatangi sekolah dan terlibat adu mulut dengan Paimen mengenai jalan usaha tani (JUT) di belakang TK yang berada di Kecamatan Tabir Ulu, Kabupaten Merangin.Adu mulut ini memicu kemarahan A, yang kemudian memukul keras telinga Paimen.“Bahasa terakhir sebelum mukul, ‘saya tidak lewat di tanah pak Paimen, tapi Pak Paimen jangan lewat tanah di belakang TK,’ namun mertua saya bantah bahwa jalan di belakang TK itu jalan JUT," ungkap Saidina.Akibat pukulan keras tersebut, Paimen terjatuh dan dahinya membentur permukaan keras hingga berdarah. Ketika berusaha bangkit, pelaku kembali memiting tubuhnya, sehingga keduanya terjatuh.
(prf/ega)
Guru Diserang dan Dianiaya di Sekolah, Dinas Pendidikan Merangin: Sangat Menyedihkan
2026-01-12 07:08:35
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:24
| 2026-01-12 06:13
| 2026-01-12 06:01
| 2026-01-12 05:36
| 2026-01-12 05:23










































