7 Jenis Sayuran yang Paling Cocok Ditanam di Tempat Panas

2026-02-06 19:00:18
7 Jenis Sayuran yang Paling Cocok Ditanam di Tempat Panas
- Saat cuaca terlalu panas, banyak tanaman pangan mudah layu dan hasil panen pun menurun. Namun, kondisi ini tidak berlaku untuk semua tanaman.Beberapa jenis sayuran justru mampu tumbuh optimal di suhu tinggi, bahkan saat tanaman lain mulai stres.Dengan memilih varietas yang tepat, kebun tetap bisa produktif sepanjang musim panas, termasuk saat terjadi gelombang panas.Dilansir dari Martha Stewart, berikut ini 7 jenis sayuran tahan panas yang direkomendasikan para ahli karena tetap tumbuh subur meski dalam suhu panas.Baca juga: 8 Sayuran yang Paling Mudah Ditanam di Dalam Rumah Okra dikenal sebagai tanaman yang sangat tahan panas dan banyak dibudidayakan di wilayah beriklim hangat.Tanaman ini dapat tumbuh optimal pada suhu hangat, bahkan masih bertahan pada suhu yang lebih tinggi.Selain mudah tumbuh, okra juga serbaguna dalam pengolahan, mulai dari digoreng, dikukus, dipanggang, atau diasinkan.Paprika dan cabai merupakan sayuran favorit musim panas yang mampu bertahan di suhu tinggi. Beberapa varietas bahkan tetap produktif meski dalam suhu yang tinggi.Baca juga: Jangan Terlalu Sering Menyiram 10 Sayuran Ini, Bisa Layu dan Mati Agar pertumbuhan tetap optimal, tanaman ini memerlukan penyiraman rutin satu hingga dua kali per minggu selama masa tanam.Terong termasuk tanaman yang menyukai suhu hangat. Dengan nutrisi yang cukup, tanaman ini dapat berproduksi secara konsisten sepanjang musim panas.Terong tumbuh ideal pada hangat dan masih toleran terhadap lonjakan panas dalam waktu singkat. Penyiraman teratur sangat dibutuhkan, terutama saat tanaman mulai berbuah.Tomat menjadi salah satu tanaman paling populer untuk ditanam di musim panas. Beberapa varietas tertentu dikenal lebih tahan terhadap suhu tinggi dan tetap berbuah lebat di cuaca panas.Baca juga: 6 Sayuran yang Tidak Boleh Ditanam di Dekat WortelVarietas tomat tahan panas mampu tumbuh optimal asalkan mendapat nutrisi dan air yang cukup.Berbeda dengan beberapa jenis kacang yang menyukai cuaca sejuk, kacang panjang justru tumbuh baik pada suhu tinggi.Tanaman ini relatif toleran terhadap kondisi kering. Namun, untuk hasil panen maksimal, kacang panjang tetap membutuhkan penyiraman rutin.Karena bersifat merambat, tanaman kacang panjang sebaiknya juga ditanam dengan ajir atau para-para.Baca juga: 5 Sisa Sayuran yang Mudah Ditanam Kembali di Air Ubi jalar dikenal sebagai tanaman yang kuat dan produktif pada cuaca panas. Tanaman ini tetap mampu menghasilkan umbi dengan baik meski suhu tinggi.Selain sebagai sumber pangan, ubi jalar juga berfungsi sebagai penutup tanah alami yang membantu menekan gulma dan menjaga kelembapan tanah.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-02-06 19:09