Pemugaran Tuntas, Panggung Songgo Buwono dari Tempat Para Raja Bertapa Jadi Pusat Budaya Baru

2026-01-12 06:51:34
Pemugaran Tuntas, Panggung Songgo Buwono dari Tempat Para Raja Bertapa Jadi Pusat Budaya Baru
SOLO, - Panggung Songgo Buwono di kompleks Keraton Surakarta, Jawa Tengah, resmi kembali berfungsi setelah pemugaran selesai.Tuntasnya revitalisasi membuat Panggung Songgo Buwono kembali menjadi bagian sejarah Keraton Solo. Acara peresmian pemugaran berlangsung pada Selasa malam , dihadiri oleh KGPH Mangkubumi, putra tertua Pakubuwono (PB) XIII, dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon.Kedua tokoh tersebut mengenakan busana adat jawi jangkep saat memasuki bangunan bersejarah yang memiliki lima lantai dan berbentuk segi delapan ini.Baca juga: Fadli Zon Resmikan Panggung Songgo Buono, Menara Bersejarah di Keraton SurakartaDalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan harapannya agar Keraton Surakarta dapat berperan lebih besar ke depan."Kita berharap Keraton Solo dapat berperan lebih luas sebagai pusat budaya, pusat peradaban, dan pusat edukasi," ujarnya.Panggung Songgo Buwono didirikan pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono III sekitar tahun 1728 dan memiliki tinggi sekitar 30 meter.Bangunan ini mengandung filosofi nogo muluk tinitan jalmo, yang berarti keyakinan bahwa suatu saat rakyat akan memilih pemimpinnya sendiri.Baca juga: Air Terjun Songgo Langit Jepara: Daya tarik, Legenda, dan Harga TiketFilosofi ini terwujud pada tahun 1945, saat Indonesia merdeka dan memasuki era kepemimpinan yang lahir dari kehendak rakyat.Secara historis, Panggung Songgo Buwono merupakan bagian penting dari arsitektur Keraton Surakarta.Bangunan ini berfungsi sebagai pos penjagaan strategis untuk mengawasi kawasan keraton, alun-alun, dan benteng VOC, serta berfungsi sebagai penanda waktu.Dari sisi spiritual, Panggung Songgo Buwono diyakini sebagai tempat malenggeng atau bertapa, di mana raja menjalani laku spiritual dan komunikasi batin, menjadikannya ruang yang sakral.Dalam tata ruang Keraton Surakarta, Panggung Songgo Buwono terletak di pusat kompleks dan melambangkan axis mundi atau poros dunia, yang menghubungkan Buwono Agung (alam semesta), Buwono Cilik (manusia), dan Buwono Tengahan (keraton).Baca juga: Songgo Buwono, Kuliner Ningrat dari Keraton Yogyakarta yang Penuh FilosofiIni menggambarkan pentingnya keseimbangan antara alam, manusia, dan spiritualitas dalam kepemimpinan.Panggung Songgo Buwono memiliki sejarah panjang, termasuk kebakaran yang terjadi pada 19 November 1954, diikuti dengan rekonstruksi pada 30 September 1959.


(prf/ega)