INACA Sebut Penerbangan 2025 Merosot, Minta “Political Will” Presiden

2026-01-11 21:17:06
INACA Sebut Penerbangan 2025 Merosot, Minta “Political Will” Presiden
JAKARTA, - Indonesia National Air Carriers Association (INACA) melaporkan statistik penerbangan berjadwal dan charter sepanjang 2025 merosot dibanding 2024.Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, menyebut jumlah penerbangan di tahun 2025 bahkan belum kembali pulih seperti sebelum dilanda pandemi Covid-19.“Kondisi tersebut tidak bisa diselesaikan secara parsial, tetapi diperlukan political will dari pemerintah untuk menyehatkan industri penerbangan secara menyeluruh,” kata Denon dalam keterangan resminya, Selasa .Baca juga: Danantara Suntik Rp 6,6 Triliun ke Garuda, INACA: Semua Maskapai Ikut Sehat/ ELSA CATRIANA Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadjausai menghadiri Rapat Umum INACA di Jakarta, Kamis . Denon menyebut, penurunan jumlah penerbangan maskapai Tanah Air berdampak pada konektivitas nasional masyarakat dan pengiriman logistik melalui jalur udara tidak maksimal.Oleh karena itu, pemerintah perlu meningkatkan konektivitas transportasi guna mendorong pertumbuhan perekonomian nasional.Denon mengungkapkan, sejak Januari-September 2025, penumpang penerbangan domestik baru 46,7 juta penumpang, atau hanya 71 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 65,8 juta.INACA memprediksi, hingga akhir 2025 jumlah penumpang domestik belum menyamai 2025, yakni hanya 61,2 juta atau 93 persen.Baca juga: INACA Sebut Industri Penerbangan Bakal Terimbas Efek Domino Tarif Trump“Jika dibandingkan tahun 2019 di mana jumlah penumpang domestik 79,5 juta, maka recovery rate baru 77 persen,” ujar Denon.Sementara, jumlah penumpang penerbangan internasional hingga September baru 29 juta atau 81 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 36 juta orang.INACA memprediksi hingga akhir tahun 2025 penumpang internasional hanya mencapai 96 persen atau 34,7 juta dibanding 2024.SHUTTERSTOCK/ZINAIDASOPINA Ilustrasi harga tiket pesawat. “Jika dibandingkan tahun 2019 di mana jumlah penumpang internasional 37,3 juta, maka recovery rate baru 93 persen,” tutur Denon.Baca juga: INACA Usul Bentuk Dewan Transportasi Indonesia, Apa Fungsinya?INACA juga mencatat penurunan terjadi pada angkutan kargo domestik yang hanya 77 persen atau 418.361 ton dibandingkan 2024 dengan yang mencapai 541.900 ton.Pihaknya memprediksi, hingga akhir tahun 2025 jumlah kargo domestik hanya tembus 521,8 ribu ton atau 96 persen dibanding 2024.“Jika dibandingkan tahun 2019 di mana kargo domestik sebanyak 577.806 ton, maka recovery rate baru 90 persen,” kata dia.Sementara, kargo internasional hanya mengangkut 352.585 ton atau 77 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 459.068 ton.Baca juga: INACA Minta Pemerintah Deregulasi Proses Impor Suku Cadang Pesawat


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-01-11 21:41