Penyebab Anak Gorontalo Tak Sekolah: Beasiswa Dipakai Orang Tua hingga Godaan Tambang Emas

2026-01-11 03:18:51
Penyebab Anak Gorontalo Tak Sekolah: Beasiswa Dipakai Orang Tua hingga Godaan Tambang Emas
GORONTALO, - Tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo dan Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Bappeda), menemukan berbagai faktor yang menyebabkan anak putus sekolah.Temuan itu di antaranya soal penggunaan beasiswa yang tidak tepat hingga iming-iming kerja di tambang emas tradisional.Temuan ini diungkap setelah para peneliti menyasar ribuan siswa dari 28 sekolah SMP, SMA, dan SMK di sejumlah kabupaten di Provinsi Gorontalo.Penggunaan beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) dinilai tidak sepenuhnya digunakan untuk kepentingan pendidikan.Muchtar Ahmad, ketua tim peneliti mengatakan, bantuan tersebut memang sudah disalurkan dan diterima. Namun, tidak tepat penggunaannya karena dipakai untuk kepentingan orang tua.Baca juga: Pasien Kritis di Gorontalo Meninggal Saat Dibawa dengan Taksi, Keluarga Sesalkan Ambulans Dipakai Hadiri Lomba Voli"Bantuan disalurkan dan diterima, namun tidak tepat penggunaannya, bantuan dipakai untuk kepentingan orang tua, tidak untuk menunjang aktivitas pendidikan anaknya," katanya, Senin .Bantuan pemerintah yang seharusnya untuk menunjang pendidikan anak banyak yang digunakan orang tua untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga atau keinginan orang tua.Peneliti juga menemukan banyak siswa yang menerima bantuan pendidikan, sementara orang tuanya juga menerima bantuan.Ada juga temuan soal sikap orang tua yang kurang mendorong anaknya untuk menuntaskan pendidikan.Rendahnya pendidikan orang tua, yang rata-rata lulusan sekolah dasar, juga menjadi masalah tersendiri. Sebab mereka tidak memotivasi anaknya di sekolah.Baca juga: Minimarket Sempat Riuh, Warga Gorontalo Rasakan Kuatnya Guncangan Gempa M 6,2Temuan lain, adalah godaan bekerja di tambang emas tradisional. Banyak warga yang mendorong anaknya untuk bekerja di pertambangan emas tradisional sebagai pekerja atau sebagai tukang ojek yang lazim disebut kijang.“Bahkan saat kami mengunjungi siswa di rumahnya, orang tua tidak memotivasi anaknya,” tutur Muchtar Ahmad.Muchtar membeberkan faktor dominan anak putus sekolah. Antara lain tekanan sosial-ekonomi keluarga dan kemiskinan, biaya tidak langsung pendidikan yang meningkat, rendahnya pendidikan orang tua, kelemahan tata kelola bantuan pendidikan, serta faktor sosial dan gender.Dalam paparannya, peneliti juga mengungkapkan bahwa sebanyak 24.171 anak di Gorontalo tidak sekolah per Juli 2025.Baca juga: Alat Penyaring Sampah Karya Anak SD Gorontalo Raih Penghargaan di SingapuraDari jumlah tersebut terdiri dari 8.774 anak drop out, 6.893 anak lulus sekolah tetapi tidak melanjutkan, dan sebanyak 8.504 anak belum pernah sekolah.Sementara itu, angka kemiskinan Provinsi Gorontalo pada 2025 mencapai 13,87 persen. Angka ini masih di atas rata-rata nasional yang sebesar 9,36 persen.


(prf/ega)