Antisipasi Tahun Baru 2026, Mendagri Cegah Tragedi Seperti di Itaewon

2026-02-02 12:35:55
Antisipasi Tahun Baru 2026, Mendagri Cegah Tragedi Seperti di Itaewon
JAKARTA, - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta kementerian dan lembaga terkait untuk menyiapkan antisipasi kepadatan di titik-titik keramaian pengunjung ketika perayaan Natal dan Tahun Baru 2026. Tragedi Itaewon jadi pembelajaran.Tito tidak ingin tragedi seperti malam Halloween di Itaewon, Korea Selatan, 2022 silam, terjadi di Indonesia karena tidak adanya pengamanan yang baik."Kita harus mengantisipasi kepadatan di titik-titik perayaan malam tahun baru, seperti di Ancol Jakarta dan daerah lainnya. Kita tidak ingin tragedi seperti perayaan Halloween di Seoul, Korea Selatan," ucap Tito saat Rapat Koordinasi (Rakor) Persiapan Nataru di Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin .Baca juga: Polri Bersiap Hadapi Libur Natal dan Tahun Baru 2026Menurut Tito, tragedi Itaewon tidak akan terulang di Indonesia jika titik-titik lokasi wisata yang berpotensi ramai pengunjung diantisipasi dengan baik."Itu (tragedi Itaewon) tidak diamankan dengan baik, diantisipasi dengan baik, sehingga mengakibatkan banyak korban meninggal. Di negara modern pun hal itu bisa terjadi jika tidak diantisipasi dengan baik," kata dia."Investigasi di sana bahkan wali kota jadi tersangka dan Kepala Polisi daerah itu jadi tersangka karena dianggap tidak mampu untuk mengantisipasi dan menetralisir potensi keamanan," sambung Tito.Baca juga: KAI Prediksi Puncak Arus Mudik Jatuh pada H-1 Natal dan Jelang Tahun BaruSelain pengamanan di lokasi keramaian, Tito mengatakan bahwa hal yang terpenting lainnya dalam persiapan libur Nataru adalah transportasi."Mobilitas masyarakat akan sangat tinggi, baik untuk merayakan Natal, pulang kampung atau mudik, maupun berlibur ke tempat wisata. Kesiapan transportasi darat, laut, dan udara menjadi vital," kata dia.Sebab itu, Rakor ini digelar karena persiapan Nataru perlu sinergi dari tingkat pusat sampai ke tingkat daerah serta stakeholder terkait dari TNI dan Polri."Kami mengundang stakeholder di bidang kesiapan pangan, ada dimensi keamanan, mencakup keamanan lalu lintas, antisipasi bencana alam di tempat wisata, udara yang buruk, serta pengendalian kerumunan," ujar Tito.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-02-02 12:06