Refleksi Hari Ibu: Ruang Aman bagi Ibu Menentukan Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

2026-02-02 20:48:54
Refleksi Hari Ibu: Ruang Aman bagi Ibu Menentukan Tumbuh Kembang Anak Usia Dini
- Seorang perempuan kerap diperkenalkan dengan banyak nama. Ia dipanggil dengan namanya sendiri, nama suaminya, atau nama anaknya. Satu tubuh, banyak panggilan. Satu jiwa, banyak peran. Namun, di balik ragam nama itu, tersimpan beban yang jarang dibicarakan secara jujur: tanggung jawab sebagai istri, tuntutan sebagai ibu, kewajiban sebagai anak perempuan, dan tidak jarang, peran sebagai tulang punggung ekonomi keluarga.Di ruang publik dan media sosial, perempuan, khususnya ibu, sering disapa dengan kalimat yang terdengar menenangkan, seperti “ibu itu kuat”, “perempuan itu hebat”, atau “sabar ya, Bu, pahalanya besar”.Sayangnya, kalimat-kalimat tersebut kerap menjadi selimut halus yang menutupi luka perempuan.“Kalimat pujian tentang ketangguhan ibu sering kali justru menjadi cara paling sopan untuk mengabaikan penderitaan mereka,” ujar Dosen Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Beatrix Novianti Bunga dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Senin .Baca juga: Grandparenting dan Pengasuhan Orangtua, Sinergi atau Seteru? Beatrix menilai, ungkapan-ungkapan tersebut seolah menormalisasi beban berlapis yang harus diterima perempuan tanpa ruang untuk mengeluh.Padahal, bagi anak usia dini, ketangguhan ibu yang lahir dari luka batin bukanlah kabar baik. Anak tidak hanya tumbuh dari gizi dan stimulasi, tetapi juga dari rasa aman emosional yang ia rasakan setiap hari.Dalam hal ini, rasa aman sangat ditentukan oleh kondisi psikologis orang dewasa terdekatnya, terutama ibu.Selama lebih dari sepuluh tahun mendampingi kelas-kelas pengasuhan, Beatrix menyaksikan bahwa persoalan terbesar dalam pengasuhan bukan semata kurangnya pengetahuan orangtua, melainkan ketiadaan ruang aman bagi ibu.Ruang-ruang itu sering kali sederhana, seperti beralas tikar, kursi plastik, segelas air mineral. Namun, justru di sanalah kejujuran menemukan tempatnya.Baca juga: PAUD Bermutu, Investasi untuk Menghentikan Rantai Kemiskinan“Ibu-ibu bercerita tentang tekanan ekonomi, relasi yang memburuk dengan pasangan, kelelahan yang menumpuk, hingga rasa bersalah karena merasa gagal menjadi ‘ibu ideal’,” kata Beatrix.Anggota Early Childhood Education and Development (ECED) Council itu menyebut, sebagian ibu tertawa sambil menahan air mata, sementara yang lain menangis karena untuk pertama kalinya merasa didengarkan tanpa dihakimi.Pengalaman tersebut menunjukkan satu hal penting: ibu juga membutuhkan ruang aman untuk memulihkan diri secara emosional.Tanpa ruang aman itu, luka akan menumpuk dan berdampak pada cara ibu merespons anak.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-02-02 20:18