Gas Metana hingga Bau Menyengat, Tekanan Lingkungan TPST Bantargebang Kian Berat

2026-01-12 15:47:56
Gas Metana hingga Bau Menyengat, Tekanan Lingkungan TPST Bantargebang Kian Berat
BEKASI, – Bau menyengat kerap datang tanpa aba-aba. Ketika angin bertiup dari arah timur, warga di sekitar Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, kembali harus menutup jendela rapat-rapat.Dari kejauhan, gunungan sampah tampak menghijau, seolah menjadi bukit alami. Namun, di balik warna hijau itu, tekanan terhadap lingkungan justru kian berat.TPST Bantargebang yang selama lebih dari tiga dekade menjadi muara sampah Jakarta kini berada di persimpangan krisis.Baca juga: Hidup dari Gunungan Sampah Bantargebang, Andi Raup Rp 30 Juta per Bulan dari Limbah PlastikTimbunan sampah yang terus bertambah, kapasitas pengolahan yang tertinggal, serta dampak lingkungan dan kesehatan yang semakin nyata membuat persoalan Bantargebang tak lagi sekadar isu teknis. Masalah ini telah menjelma menjadi persoalan ekologis dan kemanusiaan.Tekanan terbesar Bantargebang datang dari dampak lingkungan. Timbunan sampah organik dalam jumlah besar secara alami menghasilkan gas metana, gas rumah kaca yang daya rusaknya jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida./LIDIA PRATAMA FEBRIAN TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat Koordinator Kelompok Riset Teknologi Pengelolaan Sampah dan Limbah Padat Industri BRIN, Dr Sri Wahyono, menyebut Bantargebang pernah memiliki fasilitas pembangkit listrik berbahan bakar gas metana dengan kapasitas sekitar 16,5 megawatt (MW).Namun, karena produksi gas tidak sesuai dengan desain awal, hanya dua unit yang sempat beroperasi dengan daya sekitar 3 MW, sebelum akhirnya berhenti akibat berbagai kendala teknis.“Gas metana yang tidak tertangkap berpotensi lepas ke atmosfer, meningkatkan risiko kebakaran, ledakan, sekaligus memperparah krisis iklim,” kata Sri Wahyono saat dihubungi Kompas.com, Jumat .Selain gas, air lindi juga menjadi persoalan serius. Lindi Bantargebang memiliki kadar pencemar yang sangat tinggi, dengan nilai chemical oxygen demand (COD) sekitar 3.100 mg/L dan biological oxygen demand (BOD) sekitar 930 mg/L sebelum diolah.Meski Instalasi Pengolahan Air Lindi (IPAL) mampu menurunkan kadar pencemar hingga 95 persen, lonjakan volume air lindi saat musim hujan membuat sistem bekerja mendekati batas maksimal.Jika pengendalian tidak optimal, lindi berisiko mencemari air tanah dan badan sungai di sekitar Bantargebang.Pengamat lingkungan Mahawan Karuniasa menjelaskan, rata-rata sampah yang masuk ke TPST Bantargebang mencapai sekitar 7.000 ton per hari. Baca juga: Menara Saidah, Bayangan Kemegahan yang Terbengkalai di Tengah Megaproyek JakartaAngka tersebut menjadi patokan utama untuk membaca besarnya tekanan yang terjadi di lokasi itu.“Kalau kita bicara volume yang masuk, kapasitas, dan ketinggian timbunan, banyak angka menunjuk ke sekitar 7.000 ton per hari,” kata Mahawan saat dihubungi Kompas.com, Senin .TPST Bantargebang memiliki luas sekitar 110 hektar. Dari luasan tersebut, timbunan sampah yang telah terkumpul diperkirakan mencapai 55 juta ton.


(prf/ega)