Ragam Pelanggaran TKA 2025: Live Streaming hingga Upaya Bocorkan Soal

2026-02-03 02:35:53
Ragam Pelanggaran TKA 2025: Live Streaming hingga Upaya Bocorkan Soal
JAKARTA, - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti membeberkan sejumlah pelanggaran yang terjadi selama pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025, baik yang dilakukan oleh pelajar, pengawas, bahkan lembaga bimbingan belajar (bimbel)."Pelaksanaan tahun ini juga tidak terlepas dari pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan baik oleh peserta tes maupun pengawas atau teknisi," ujar Mu'ti dalam bersama Komisi X DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu .Berdasarkan materi yang dipaparkan, pelanggaran yang dilakukan oleh peserta TKA terdiri dari penggunaan gawai, live streaming saat pengerjaan TKA, menjual soal TKA, hingga upaya membocorkan soal lewat media sosial TikTok, WhatsApp, dan X.Baca juga: Hasil TKA Matematika Jeblok: Salah Guru dan Buku?Sementara, kecurangan yang dilakukan pengawas adalah live streaming selama pengerjaan TKA, mempersilakan peserta menggunakan gawai, dan menyebar dashboard pengawas.Adapun pelanggaran yang dilakukan bimbel adalah membuat konten latihan soal dengan soal yang tersebar setelah pelaksanaan TKA.Mu'ti menyampaikan bahwa pihaknya tidak menoleransi berbagai bentuk praktik kecurangan sehingga para pelanggar akan diberi sanksi.Baca juga: Jebloknya Nilai Matematika Siswa di TKA 2025, Mendikdasmen: Bukan Muridnya"Kemendikdasmen akan menindak tegas dan tidak menoleransi praktik-praktik kecurangan yang dilakukan dengan memberikan sanksi sesuai dengan pelanggarannya," tutur dia.Di samping itu, Mu'ti mengakui masih ada kekurangan dalam pelaksanaan TKA 2025 ini.Namun, dia berjanji akan terus maksimal dalam menindaklanjuti temuan pelanggaran ini.Baca juga: Nilai Matematika TKA 2025 Jeblok, Pemerhati: Bukan Kegagalan Guru"Agar pelaksanaan ke depan semakin lancar, efektif, dan akuntabel bagi seluruh peserta di seluruh daerah," kata Mu'ti.Mu'ti pun berharap TKA dapat menjadi alat ukur siswa dalam mengukur pencapaian belajar."Melalui upaya ini, kami berharap TKA tidak hanya menjadi alat ukur pencapaian belajar, tetapi juga menjadi sarana menanamkan kesadaran akan nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab sejak dini," kata dia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-02-03 01:41