PGSI Demak Dukung Wacana 6 Hari Sekolah: Lebih Efektif dan Tak Ganggu Santri

2026-01-12 04:20:35
PGSI Demak Dukung Wacana 6 Hari Sekolah: Lebih Efektif dan Tak Ganggu Santri
DEMAK, - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggagas wacana penerapan enam hari sekolah untuk jenjang SMA/SMK.Menanggapi hal itu, Ketua Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) Kabupaten Demak, Noor Salim, menyatakan dukungan penuh terhadap wacana tersebut.Ia menegaskan, sejak awal PGSI menolak kebijakan lima hari sekolah yang saat ini berlaku.“Penerapan 6 hari sekolah ini kita lebih setuju, baik untuk SMA maupun SMP, PGSI setuju bahkan mendorong,” kata Salim melalui sambungan telepon, Rabu sore.Baca juga: Pemprov Jateng Kaji Kebijakan 6 Hari Sekolah untuk SMA dan SMKSalim menyebut sedikitnya ada tiga alasan mengapa kebijakan enam hari sekolah dinilai lebih efektif.Pertama, mayoritas siswa di Jawa Tengah beragama Islam dan sebagian tinggal di pondok pesantren meski bersekolah di SMA umum.Situasi ini membuat pembelajaran di pesantren menjadi terganggu.“Ketika sekolah dibuat seperti sekarang yang lima hari (tapi pulang sore), banyak yang mengeluh kesulitan. Mereka tidak bisa mengikuti pembelajaran di pesantren,” paparnya.Baca juga: Kepsek SMAN 1 Blora Tanggapi Wacana 6 Hari Sekolah, Sebut Siswa Idealnya Pulang sebelum 13.00Kedua, kegiatan belajar mengajar setelah pukul 13.00 WIB dinilai tidak efektif karena siswa sudah kelelahan.“Kalau sudah jam 13 ke atas, siswa itu cara berpikirnya sudah kurang efektif,” ujarnya.Ia juga menyinggung kondisi umum pada penerapan lima hari sekolah. Siswa yang pulang sore kerap mengantuk hingga memicu persoalan di kelas.“Selama pembelajaran sampai sore, mereka datang duduk, pada ngantuk. Anak-anak SMA, SMK, MA juga, mereka tidur di lantai. Ketika guru membangunkan, siswanya marah-marah. Ini menjadi persoalan,” tuturnya.Ketiga, tidak semua siswa berasal dari keluarga mapan. Banyak siswa yang beranjak dewasa dan bersiap masuk perguruan tinggi sudah membantu orang tua memenuhi kebutuhan ekonomi.“Sebagian mereka anak nelayan, anak petani, anak pedagang. Mereka sorenya membantu orang tua berdagang. Kalau sekolah sampai sore, mereka susah membantu keluarga,” paparnya.“Ini bagian dari entrepreneur yang kita ajarkan di sekolah. Kalau tetap 6 hari sekolah maka ini akan berdampak pada ekonomi keluarga,” sambungnya.Atas pertimbangan tersebut, Salim menegaskan PGSI mendukung penuh bila kebijakan enam hari sekolah diberlakukan kembali.“Jadi memang lebih tepat enam hari (sekolah), bukan lima hari,” tutup Salim.


(prf/ega)