PONTIANAK, – Subuh belum lama berlalu ketika warung kopi Asiang di Pontianak mulai dipadati pengunjung. Di kota yang dikenal sebagai “seribu kedai kopi” ini, ngopi bukan sekadar minum kopi, melainkan tradisi yang hidup sejak dini hari.Bagi wisatawan yang pertama kali menginjakkan kaki di Kota Khatulistiwa, singgah ke kedai kopi lokal menjadi pengalaman yang tak boleh dilewatkan.Tradisi ngopi begitu terasa saat menyusuri sejumlah ruas jalan di Pontianak, seperti Jalan Merapi dan Jalan Gajah Mada, tempat kedai-kedai kopi berdiri berdampingan.Meja dan kursi di setiap kedai hampir selalu terisi. Seakan tak pernah sepi, masing-masing kedai memiliki penggemarnya sendiri.Baca juga: Warung Kopi Asiang, Inilah Penjual Kopi Tanpa Baju...Kompas.com pun menyempatkan diri merasakan langsung euforia ngopi warga lokal kala bertandang ke Pontianak, Minggu .Salah satu kedai yang menarik perhatian untuk disambangi adalah Warung Kopi Asiang.Nama Asiang sudah semerbak di kalangan pencinta kopi. Kedai ini lekat dengan sosok Ko Asiang (72), barista sekaligus pemilik warung yang dikenal dengan ciri khasnya melayani pelanggan tanpa mengenakan baju./Yakob Arfin T Sasongko Di deret meja inilah Ko Asiang serta para barista meracik aneka kopi robusta menjadi sajian kopi lokal yang nikmat.Buka sejak pukul 04.00 WIB, warung kopi Asiang menjelma ruang bercengkrama warga. Tak sekadar menyeruput kopi, pengunjung datang untuk menikmati nuansa guyub, bahkan sejak dini hari.Baca juga: Cerita Initial Coffee Roaster, Berdayakan Ratusan Petani hingga Bawa Biji Kopi Lokal ke Panggung NasionalHal itu diamini Devin (21), perantau asal Kabupaten Sintang. Bersama sang kekasih, ia memesan dua cangkir kopi susu dan sepotong roti bundar berisi selai srikaya.“Saya ke sini bersama seorang teman sejak pukul 04.30 WIB. Seminggu sekali lah saya ke sini. Pesan kopi susu tarek dan roti srikaya. Menu ini enak dinikmati sambil ngobrol,” ujar Devin saat berbincang dengan Kompas.com, Minggu.Ia mengaku, sejak merantau ke Pontianak beberapa tahun lalu, kopi menjadi bagian dari kesehariannya.Menurut Devin, setiap kedai kopi di Pontianak memiliki penggemar masing-masing, termasuk warung kopi Asiang.Baca juga: Liong Bulan, Kopi Lokal Bogor yang Legendaris“Bahkan sebelum pukul 04.00 WIB, sudah banyak warga yang menanti di depan Warung Kopi Asiang. Ada juga yang reservasi lewat WhatsApp supaya kebagian meja untuk ngopi bareng teman-temannya,” tutur Devin.Karakter pengunjung pun beragam. Ada yang menikmati kopi seorang diri, ada pula yang hadir berkelompok bersama orang-orang terdekat.Kompas.com tiba di Warung Kopi Asiang sekitar pukul 05.30 WIB. Saat itu, meja dan kursi sudah dipadati pengunjung, baik anak muda, orang tua, pria, maupun wanita.Beruntung, masih tersedia satu meja kosong di sebelah Devin. Dari meja inilah, Kompas.com ikut larut dalam hangatnya suasana warga Pontianak, ditemani secangkir kopi susu panas.Baca juga: Story Telling, Taktik Agar Kedai Kopi Lokal Tak Semenjana“Kami ke sini tidak hanya untuk ngopi, tapi merasakan suasana akrab warga menikmati kopi sambil bercengkrama. Bagi warga Pontianak, ngopi sudah jadi tradisi, bagian dari keseharian,” lanjut Devin./Yakob Arfin T Sasongko Seorang pramusaji warung kopi Asiang mengantarkan pesanan kopi susu, roti srikaya, dan minuman dingin kepada pelanggan. Pelayanan cepat dan ramah menjadi bagian dari pengalaman ngopi di kedai legendaris ini.Suasana hangat di Warung Kopi Asiang tak hanya terpancar dari para pengunjung, tetapi juga dari pelayanan khas kedai kopi legendaris ini.Begitu melangkah mendekati meja Ko Asiang, seorang pelayan dengan sigap dan ramah langsung menanyakan pesanan.“Abang mau kopi hitam atau kopi susu?” tanya seorang pelayan berkerudung hitam kepada Kompas.com. “Mau sekalian telur setengah matang?” ujarnya menyambung.Baca juga: Gibran dan Surya Paloh Ngopi Bareng di Kopi Asiang PontianakTerpikat pada keramahan tersebut, tiga menu favorit pun dipesan, yakni kopi susu panas dan telur setengah matang, lengkap dengan roti bundar berisi selai srikaya.Secangkir kopi susu panas dibanderol Rp 12.000, telur setengah matang Rp 14.000, dan roti srikaya Rp 7.000.Menu lain yang juga tersedia dibanderol dengan nominal terjangkau. Kopi saring panas seharga Rp 9.000, kopi tubruk Rp 9.000, serta liang teh seharga Rp 8.000.Di tengah kepulan uap kopi dan obrolan yang tak putus, Warung Kopi Asiang menjadi saksi bagaimana tradisi ngopi subuh terus bertahan lintas generasi, menyatukan warga Pontianak dalam kehangatan sederhana sejak pagi hari./Yakob Arfin T Sasongko Ko Asiang (72), barista sekaligus pemilik Warung Kopi Asiang, meracik kopi secara manual di balik meja racik. Ciri khasnya melayani pelanggan tanpa mengenakan baju telah melekat selama puluhan tahun di Pontianak.Jejak tradisi ngopi di Pontianak tak bisa dilepaskan dari Sungai Kapuas. Sungai terpanjang di Indonesia itu pada masanya menjadi nadi kehidupan kota.Baca juga: Beda Kopi Robusta dan Arabika, 2 Kopi yang Sering Kita JumpaiAktivitas ekonomi tumbuh di sepanjang tepian sungai, mulai dari pasar hingga pelabuhan, yang mempertemukan pedagang, pekerja, dan pelancong. Dari ruang-ruang perjumpaan itulah budaya minum kopi di warung kopi perlahan berakar.Seiring waktu, kebiasaan tersebut menyebar dari tepian Sungai Kapuas ke berbagai sudut Kota Pontianak. Hingga kini, keriuhan warung kopi sudah terasa sejak pagi hari.Banyak warga mengawali aktivitas dengan menyeruput kopi sebelum berangkat bekerja. Bahkan, ketika malam tiba, warung kopi tetap ramai oleh mereka yang singgah melepas lelah setelah seharian beraktivitas.Pemandangan serupa masih bisa ditemui di kawasan Pasar Tengah, salah satu wilayah di tepian Sungai Kapuas. Di kawasan ini, sejumlah warung kopi telah berdiri sejak puluhan tahun silam, menjadi saksi denyut kehidupan kota dari masa ke masa.Baca juga: Ngopi Jadi Agenda Wajib Liburan, Ini Tren Wisata Kopi yang Sedang Populer/Yakob Arfin T Sasongko Papan menu Warung Kopi Asiang menampilkan ragam pilihan kopi dan minuman tradisional, mulai dari kopi saring, kopi susu, hingga kopi tarik khas Pontianak dengan harga terjangkau.Selain Warung Kopi Asiang, Pontianak juga menyimpan deretan kedai kopi legendaris lain yang patut disambangi.Salah satunya, warung kopi Langit Biru di Pasar Tengah yang berdiri sejak era 1970-an. Warung ini dikenal dengan tiang-tiang kayu ulin yang masih kokoh menopang bangunannya hingga kini.Ada pula Kopi Djaja yang kerap disebut sebagai warung kopi tertua di Pontianak. Berdiri sejak 1835 di Jalan Tanjungpura, tak jauh dari kawasan Pasar Tengah, kedai ini menjadi penanda panjangnya sejarah budaya ngopi di Kota Khatulistiwa.Di tengah menjamurnya warung kopi modern, seduhan kopi tradisional tetap bertahan. Warung-warung kopi legendaris itu bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan ruang sosial yang merawat ingatan, tradisi, dan kebersamaan warga Pontianak lintas generasi.
(prf/ega)
Warung Kopi Asiang dan Jejak Tradisi Ngopi Subuh di Pontianak
2026-01-11 23:24:54
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 23:26
| 2026-01-11 22:32
| 2026-01-11 21:30
| 2026-01-11 21:06










































