- Presiden Prabowo Subianto tengah mempertimbangkan langkah-langkah pembatasan terhadap permainan daring, menyusul insiden ledakan yang terjadi di SMA Negeri 72 Jakarta pada Jumat . Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyampaikan bahwa Presiden sedang mencari solusi terkait pengaruh negatif game online yang diduga berkontribusi terhadap insiden tersebut.Baca juga: 2 Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta Masih Dalam Perawatan Intensif di Rumah Sakit"Beliau tadi menyampaikan bahwa kita juga masih harus berpikir untuk membatasi dan mencoba bagaimana mencari jalan keluar terhadap pengaruh-pengaruh dari game online," kata Prasetyo di Jakarta, Minggu malam, dikutip Antara . Ia menjelaskan bahwa Presiden Prabowo tengah mempertimbangkan pembatasan game online yang dinilai berdampak buruk bagi generasi muda.Prasetyo menekankan bahwa game online, terutama yang mengandung kekerasan, berpotensi memengaruhi psikologis pemain, yang pada akhirnya dapat berkontribusi pada perilaku negatif. "Karena, tidak menutup kemungkinan game online ini ada beberapa yang di situ, ada hal-hal yang kurang baik, yang mungkin itu bisa memengaruhi generasi kita ke depan," ujarnya.Baca juga: Ledakan SMAN 72 Jakarta, Setara ke Pemerintah: Prioritaskan Pencegahan EkstremismeSebagai contoh, Prasetyo menyebut game dengan genre pertempuran seperti PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG) yang dinilai dapat memengaruhi psikologis pemain. "Misalnya contoh, PUBG. Itu kan di situ, kita mungkin berpikirnya ada pembatasan-pembatasan ya, di situ kan jenis-jenis senjata, juga mudah sekali untuk dipelajari," kata Prasetyo. Menurutnya, permainan seperti ini berbahaya karena menampilkan unsur kekerasan yang mudah dipahami dan bisa menjadikan kekerasan sebagai hal yang dianggap biasa.Baca juga: Pasca-ledakan, Kegiatan Belajar di SMAN 72 Jakarta Disarankan Tetap BerlanjutSelain masalah game online, Prasetyo juga menyoroti faktor lain yang berkontribusi pada peristiwa ledakan tersebut, yaitu perundungan (bullying) di lingkungan sekolah. Ia mengimbau seluruh pihak untuk menghindari perilaku yang dapat menimbulkan dampak negatif, seperti aksi perundungan antar pelajar."Kita sebagai sesama anak bangsa ini, menghindari hal-hal yang tidak baik atau berimplikasi yang kurang baik seperti aksi-aksi bullying seperti itu," ujarnya.Baca juga: Belajar dari Tragedi SMAN 72, Apa Pemicu Korban Bullying Melakukan Kekerasan?Kejadian ledakan di SMAN 72 yang diduga dilakukan oleh salah satu siswa di sekolah tersebut, dikaitkan dengan perundungan yang terjadi sebelumnya. Konsultan Yayasan Lentera Anak dan pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, menyatakan bahwa peristiwa tersebut menunjukkan keterlambatan penanganan kasus perundungan di sekolah."Dari kerja-kerja saya di sejumlah organisasi perlindungan anak, saya harus katakan bahwa peristiwa di SMAN 72 adalah satu bukti tambahan tentang bagaimana kita lagi-lagi terlambat menangani perundungan," kata Reza dalam keterangannya pada Minggu . Ia menjelaskan bahwa terduga pelaku melakukan tindakan tersebut karena merasa tertekan dan dendam setelah sering menjadi korban perundungan.Baca juga: Ledakan SMAN 72, Anggota DPR Dorong Penanganan Trauma MenyeluruhReza menambahkan bahwa keterlambatan dalam penanganan kasus perundungan menyebabkan korban menderita dalam waktu lama dan akhirnya berjuang sendirian sebelum beralih status menjadi pelaku kekerasan. "Ini yang kita khawatirkan. Ketika korban perundungan tidak mendapatkan dukungan yang cukup, mereka bisa bertransformasi menjadi pelaku kekerasan," ujar Reza.Sebagian artikel telah tayang di Kompas.com dengan judul: Ledakan di SMAN 72 Dianggap Bukti Lambatnya Penanganan Perundungan.
(prf/ega)
Presiden Prabowo Tinjau Pembatasan Game Online, Pasca Ledakan di SMAN 72 Jakarta
2026-01-12 04:51:17
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:45
| 2026-01-12 04:14
| 2026-01-12 04:03
| 2026-01-12 03:31










































