KULON PROGO, - Bagi warga di sekitar Yogyakarta International Airport (YIA) di Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, keberadaan bandara membawa harapan baru, terutama soal lapangan pekerjaan.Harapan itu tecermin dari para peserta yang mengikuti sebuah program pelatihan yang digelar InJourney Aviation Services (IAS) di Kulon Progo.Salah satu peserta, Erly Febriyanti (18) asal Kalurahan Glagah, adalah lulusan baru yang belum pernah bekerja.Erly mengaku mengikuti pelatihan untuk menambah pengalaman agar bisa bekerja di bandara.Sebelumnya, ia hanya pernah magang di bidang perhotelan dalam YIA dan kini mengikuti pelatihan di bagian fasilitas.“Pengin nambah pengalaman supaya bisa kerja di bandara,” kata Erly, Senin .Ia memimpikan bekerja di sini dengan harapan penghasilan keluarga yang lebih baik.Pasalnya, keluarganya mengandalkan hasil dari pekerjaan serabutan ayahnya yang hanya Rp 400.000 hingga Rp 700.000 per minggu.Angka itu jauh dibanding ketika ayahnya masih hidup di alam pertanian sebelum menjadi bandara.Baca juga: Cerita dari Jalan Sonyo–Watu Belah di Kulon Progo: Dulu Jadi Andalan, Kini DitinggalkanTempat tinggal mereka tergusur bandara, lalu menempati rumah saudara.Tadinya bertani, kini serabutan dengan penghasilan tak pasti.Kebutuhan sehari-hari pernah sulit dipenuhi.“Dulu (di awal hidup pascatergusur) buat makan saja susah,” kata Erly mengenang masa itu.Ia berharap bekerja di bandara demi memberi penghasilan yang lebih pasti bagi keluarganya.Sementara itu, Ika Sumaryati (28), warga Plumbon, Kulon Progo, melihat bandara sebagai peluang kerja yang realistis bagi masyarakat lokal.
(prf/ega)
Optimisme Usai Rumah Tergusur Bandara YIA: Cerita Erly dan Ika Tak Mau Sekadar Jadi Penonton
2026-01-11 22:41:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 22:58
| 2026-01-11 22:40
| 2026-01-11 21:55
| 2026-01-11 21:18










































