Kisah Ima Humairo, Penolong Terakhir Warga Miskin Saat Bantuan Tak Kunjung Datang

2026-01-12 07:16:56
Kisah Ima Humairo, Penolong Terakhir Warga Miskin Saat Bantuan Tak Kunjung Datang
LEBAK, – Namanya Ima Humairo (42). Bukan pejabat, bukan pegawai dinas, hanya seorang perempuan biasa yang tinggal di Malingping, Lebak Selatan.Namun, bagi banyak orang miskin di pelosok selatan Banten, Ima adalah harapan terakhir untuk dimintai pertolongan.Setiap kali telepon genggamnya berdering, Ima tahu ada hidup yang sedang menunggu uluran tangan. Kadang bayi kekurangan gizi, kadang orang dengan gangguan jiwa yang tergeletak di pinggir jalan, atau warga miskin yang tak bisa berobat karena tak punya kartu identitas.Dia tak menunggu surat tugas atau izin dinas untuk bergerak, cukup dengan niat dan keteguhan, lalu berangkat membantu siapa pun yang membutuhkan."Biasanya teleponnya cuma bilang begini, 'Bu Ima, ada orang sakit, enggak ada yang mau menolong'," cerita dia kepada Kompas.com di Malingling, Lebak, Senin .Saking banyaknya warga yang minta bantuan, Ima bahkan membuat rumah singgah di Kecamatan Malingping.Tempat ini menjadi tempat persinggahan orang-orang yang terlupakan, mereka yang tak masuk data bantuan, tak punya kartu identitas, atau terlalu miskin untuk menunggu surat rujukan.Baca juga: Kisah Penjaga Perlintasan Tanpa Palang Pintu di Bojonggede, Totalitas meski Tak Dapat BayaranPerjalanan Ima menjadi relawan berawal dari sebuah kehilangan yang begitu membekas.Ibunya, satu-satunya orang yang selalu menjadi alasan dia pulang, jatuh sakit dan berulang kali harus dibawa berobat hingga wafatnya."Setiap kali mau berobat, selalu ribet. Harus surat ini, fotokopi itu, antre panjang, begitu melelahkan," cerita Ima.Wafatnya sang ibu meninggalkan perasaan bersalah yang sulit hilang. Dari situ, dia berjanji, tak ingin ada orang lain yang mengalami hal serupa, mati bukan karena sakitnya, tetapi karena birokrasi.Beberapa tahun setelah itu, Ima bekerja sebagai pegawai honorer di Kecamatan Wanasalam. Dia dikenal aktif dan mudah diajak warga berdiskusi soal pelayanan publik.Namun, pada 2016, tiba-tiba dia diberhentikan tanpa alasan jelas."Padahal, saya lagi semangat-semangatnya kerja, urus bantuan untuk warga, saya pikir mungkin Tuhan punya jalan lain," ujarnya.Sejak saat itu, Ima memutuskan untuk tetap melakukan apa yang dia yakini, membantu masyarakat, hanya kali ini tanpa seragam.


(prf/ega)