Ribuan Personel Kawal Nataru di Tangsel, 107 Gereja-Tempat Wisata Dijaga

2026-02-04 20:17:53
Ribuan Personel Kawal Nataru di Tangsel, 107 Gereja-Tempat Wisata Dijaga
Sebanyak 1.224 personel gabungan dikerahkan dalam Operasi Lilin 2025 untuk mengawal perayaan Natal tahun 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) di Tangerang Selatan. Polres Tangsel siap mengawal perayaan Nataru yang aman dan kondusif.Hal itu disampaikan Kapolres Tangerang Selatan AKBP Victor Inkiriwang setelah melakukan Rapat Koordinasi (Rakor) Lintas Sektoral Operasi Lilin 2025. Hadir Wakil Wali Kota Tangerang Selatan H. Pilar Saga Ichsan, Dandim 0506/Tangerang Kolonel Inf. Ary Sutrisno dan para stakeholder lainnya."Dalam rapat koordinasi ini kami memberikan gambaran situasi kamtibmas di wilayah hukum Polres Tangerang Selatan. Selanjutnya kita diskusikan bersama agar dapat mengambil langkah dan kebijakan yang tepat guna mengamankan situasi kamtibmas menjelang akhir tahun 2025," kata Victor dalam keterangannya, Kamis (18/12/2025).Operasi Lilin 2025 sendiri akan dilaksanakan selama 14 hari, terhitung mulai tanggal 20 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026. Operasi ini melibatkan personel gabungan yang terdiri dari unsur Polri, TNI, Pemerintah Daerah (Dishub, Satpol PP, Dinkes), Pokdarkamtibmas, Saka Bhayangkara serta unsur masyarakat.Victor menambahkan, di wilayah Tangerang Selatan terdapat 208 objek pengamanan yang meliputi 107 tempat ibadah (gereja), 9 objek wisata, 7 stasiun KAI, 1 terminal, 15 pusat perbelanjaan/mal, serta 69 lokasi perayaan malam tahun baru.Polres Tangerang Selatan mendirikan 8 Pos Pengamanan (Pospam) dan 1 Pos Pelayanan (Posyan), serta menyiapkan 9 Pos Pengamanan Terpadu yang disesuaikan dengan jumlah kecamatan di wilayah hukum Polres Tangerang Selatan."Mari bersama-sama memberikan respons cepat dalam mengatasi berbagai persoalan, khususnya terkait pelayanan kepada masyarakat yang akan melaksanakan libur Natal dan Tahun Baru," tuturnya.Wakil Wali Kota Tangerang Selatan H. Pilar Saga Ichsan, menyampaikan Pemerintah Kota Tangerang Selatan siap mendukung Polres dan Kodim dalam mengantisipasi berbagai potensi gangguan Kamtibmas selama Nataru, seperti tawuran, peredaran minuman keras, dan peredaran narkotika yang selama ini telah dapat ditangani dengan baik.Dia juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi aksi terorisme dan radikalisme. Hal ini dilakukan agar masyarakat dapat merayakan momen Nataru dengan rasa aman, nyaman, dan penuh sukacita.Simak juga Video '29-31 Desember 2025, ASN Tak Perlu Masuk Kantor':[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-04 20:04