Mengenal Komunitas GudRnD, Daur Ulang Plastik Sederhana jadi Produk Bernilai Guna

2026-02-01 20:18:53
Mengenal Komunitas GudRnD, Daur Ulang Plastik Sederhana jadi Produk Bernilai Guna
Jakarta - Masalah sampah yang semakin menumpuk setiap hari membuat banyak orang khawatir tentang kondisi lingkungan. Sampah plastik, botol, dan limbah lainnya terus bertambah tanpa penanganan yang jelas. Melihat kondisi tersebut, hadir sebuah komunitas pencinta lingkungan bernama Gudskul Rekayasa dan Dicoba-coba (GudRnD).Komunitas ini tidak hanya mengumpulkan sampah, tetapi juga mengolahnya kembali menjadi berbagai barang baru yang dapat digunakan dan memiliki nilai guna.AdvertisementGudRnD terbentuk pada masa awal pandemi, ketika face shield sulit ditemukan dan dibutuhkan oleh banyak orang. Dari kondisi itu muncul gagasan untuk membuat face shield menggunakan mesin 3D print. "GudRnd terbentuk saat pandemi, waktu itu kami bikin face shield pakai 3D print, dan ternyata menyisakan banyak potongan plastik sampai dua, tiga karung. Dari situ kami mulai mikir buat mengolah limbah itu lagi," kata Muhammad Aldino sebagai Project manager saat ditemui Kamis 4 Desember 2025.Melihat tumpukan potongan plastik yang terus bertambah, mereka mulai memikirkan cara agar limbah itu tidak langsung dibuang. Dari rasa penasaran itu, mereka mencoba berbagai cara untuk mengolahnya kembali. "Akhirnya kita coba. Kita ulik dengan dibakar, direbus, sampai akhirnya ketemu cara yang paling aman dan paling masuk akal, yaitu pakai oven," tambahnya.Dari percobaan menggunakan oven itu, potongan limbah plastik perlahan mulai berubah menjadi lembaran yang bisa dibentuk ulang menjadi berbagai produk, seperti kacamata, stand laptop, stand handphone, hingga poster. Percobaan yang dilakukan berulang-ulang inilah yang kemudian membuat mereka terbiasa menyebut aktivitas tersebut sebagai 'rekayasa dan dicoba-coba', sebutan yang akhirnya berkembang menjadi nama GudRnD.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-01 18:49