Cegah Kecurangan Pakai AI, Dosen Luar Negeri Beralih ke Ujian Lisan

2026-01-16 01:04:18
Cegah Kecurangan Pakai AI, Dosen Luar Negeri Beralih ke Ujian Lisan
 - Catherine Hartmann, seorang profesor studi agama dari Universitas Wyoming, Amerika Serikat memutuskan untuk kembali menggunakan ujian lisan sejak tahun lalu.Mahasiswa di kelasnya dihadapkan pada metode ujian yang umurnya yang setua para filsuf kuno.Selama 30 menit, setiap mahasiswa duduk berhadapan dengan Hartmann di kantornya. Hartmann mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam. Mahasiswa harus menjawabnya saat itu juga.Dilansir dari The Washington Post, Sabtu , Hartmann bukanlah satu-satunya dosen yang beralih ke metode penilaian “kuno” ini.Semakin banyak tenaga pendidik sedang mencoba ujian lisan untuk membentengi integritas akademik dari gempuran kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT.Baca juga: Kisah Bagas, Siswa SMA yang Ikut Sumbang Medali SEA Games 2025AI sendiri dapat digunakan untuk mencontek pada ujian atau esai yang dibawa pulang, serta menyelesaikan berbagai tugas.Fenomena ini dikenal sebagai bagian dari “cognitive off-loading” atau pelimpahan beban kognitif ke pihak ketiga seperti AI.Hartmann memberikan analogi yang menohok kepada mahasiswanya. Ia mengatakan bahwa menggunakan AI dalam belajar seperti membawa forklift ke gym saat tujuan para mahasiswa adalah membangun otot.“Kelas adalah gym, dan saya adalah pelatih pribadi Anda. Saya ingin Anda mengangkat beban.” jelasnya.Baca juga: Wamen Stella Sebut yang Perlu Belajar AI Orang Berusia 30 Tahun ke AtasMetode ini sempat membuat mahasiswanya ciut nyali. Lily Leman (20), salah seorang mahasiswa Hartmann yang mengambil dua jurusan bahasa Spanyol dan sejarah mengaku, pada awalnya ia merasa takut dengan ide ujian lisan. Usai menjalaninya, ia berharap ada lebih banyak ujian semacam itu.Dok. Freepik Ilustrasi AISejak ChatGPT diluncurkan pada 2022, para pendidik telah berjuang dengan tantangan yang ditimbulkan AI bagi metode pembelajaran yang ada.Survei terbaru Inside Higher Ed menunjukkan, 85 persen mahasiswa mengatakan mereka telah menggunakan AI dalam mata kuliah mereka, termasuk untuk brainstorming ide dan mempersiapkan ujian.Seperempat di antaranya mengaku menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas. Sementara, sekitar 30 persen mengatakan seharusnya kampus merancang metode penilaian yang “tahan AI”, termasuk ujian lisan.Untuk melawan kecurangan yang didorong oleh AI, beberapa dosen beralih ke perangkat lunak untuk mendeteksi tugas yang terindikasi dikerjakan oleh AI, meskipun alat-alat tersebut seringkali tidak akurat.Beberapa dosen lain memilih kembali ke ujian tertulis di kelas, memicu kebangkitan penggunaan “blue books,” buku kertas yang mendominasi ujian perguruan tinggi pada akhir milenium lalu.Baca juga: Mengapa Masuk ITB Sulit? Ini Penjelasan Rektor


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Dalam hitungan tak sampai lima menit, Gemini langsung menyusun kolase dengan komposisi rapi, sentuhan artistik otomatis, dan kualitas gambar yang tetap tajam.Sepengalaman saya, hasil kolase buatan Gemini terlihat lebih “niat” dan profesional dibanding kolase manual. Transisi antar foto terasa halus, penempatan elemen visual seimbang, serta tone warna konsisten dan masih bisa diubah sesuai selera.Hal ini membuat pengguna yang tidak punya kemampuan desain sekalipun tetap bisa menghasilkan Instagram Story yang estetik dan layak dipamerkan.Berikut contoh hasil collage foto konser Raisa yang di-generate langsung dari Gemini 3 Flash Nano Banana:/ Galuh Putri Riyanto pakai Gemini AI Hasil collage concert dump Raisa dibikin pakai Gemini AI di Samsung S25 Ultra./ Galuh Putri Riyanto pakai Gemini AI Hasil collage concert dump Raisa dibikin pakai Gemini AI di Samsung S25 Ultra./ Galuh Putri Riyanto pakai Gemini AI Hasil collage concert dump Raisa dibikin pakai Gemini AI di Samsung S25 Ultra./ Galuh Putri Riyanto pakai Gemini AI Hasil collage concert dump Raisa dibikin pakai Gemini AI di Samsung S25 Ultra./ Galuh Putri Riyanto pakai Gemini AI Gemini AI bisa menyulap foto biasa jadi foto sinematik dengan background panggung konser Raisa./ Galuh Putri Riyanto pakai Gemini AI Gemini AI bisa menyulap foto biasa jadi foto sinematik dengan background panggung konser Raisa.9to5google Tampilan Google Gemini 3 Flash. Google rilis Gemini 3 Flash.Menurut saya, hasil kolase yang dibuat Gemini terlihat lebih “niat” dan profesional dibanding kolase manual.Transisi antar foto terasa halus, penempatan elemen visual seimbang, dan tone warna konsisten dan bisa diubah sesuai selera. Ini membuat pengguna yang tidak punya skill desain sekalipun tetap bisa menghasilkan Instagram Story yang estetik.Hasil editan yang rapi ini berkat Gemini 3 Flash yang baru saja dirilis pada pertengahan Desember lalu. Model AI penerus Gemini 2.5 Flash ini disebut memiliki performa nyaris setara Gemini 3 Pro, tetapi dengan kecepatan lebih tinggi dan biaya penggunaan yang lebih murah.Model Gemini berlabel “Flash” dirancang untuk respons cepat. Jadi tak heran, saat men-generate hasil foto collage rekap konser Raisa, pengguna bisa mendapatkan hasilnya dalam hitungan beberapa menit saja. Hasilnya pun tetap rapi.

| 2026-01-16 01:33