Psikolog Ungkap Kondisi Mental Anak yang Bunuh Ibu di Medan

2026-01-14 20:27:53
Psikolog Ungkap Kondisi Mental Anak yang Bunuh Ibu di Medan
MEDAN, - Psikolog Forensik Irna Minauli mengungkap kondisi psikologis AL (12), anak yang membunuh ibunya, F (42), di Medan.Irna mengaku telah empat kali melakukan pertemuan dengan AL.Hasil pemeriksaan menunjukkan, AL memiliki kecerdasan tinggi, terbukti dari prestasinya di sekolah dan kemampuannya mempelajari musik serta seni secara otodidak."Dia (AL) juga mampu mempelajari musik dan seni secara otodidak. Itu menujukkan dia memiliki kecerdasan yang sangat tinggi," kata Irna saat menghadiri konferensi pers di Polrestabes Medan pada Senin .Baca juga: Kronologi Anak Bunuh Ibu di Medan, Berawal dari Game Online Analisis mendalam dilakukan untuk mendeteksi gangguan mental yang umum pada kasus anak membunuh orangtua, seperti skizofrenia, depresi, atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).Namun, AL tidak menunjukkan gejala gangguan mental tersebut, termasuk halusinasi, delusi, perilaku aneh, mimpi buruk, atau flashback."Jadi tidak ada halusinasi, delusi, dan perilaku yang aneh. Kemudian tidak dijumpai PTSD seperti mimpi buruk atau flashback berdasarkan ingatan pada fenomena tertentu," ungkap Irna.Irna juga menganalisis kemungkinan conduct disorder, namun tidak ditemukan pada AL, karena ia tidak menunjukkan perilaku melanggar aturan, melukai binatang, atau merusak barang."Tetapi hal ini lazim terjadi pada anak-anak remaja. Jadi kalau dilihat kemungkinan terjadinya peristiwa ini bukan karena adanya gangguan kesehatan mental," ucap Irna.Meski demikian, AL teridentifikasi memiliki emosi yang labil, keinginan agresif yang cukup tinggi, empati yang kurang berkembang, serta kurangnya interaksi sosial."Tapi lebih ke arah pengalaman kekerasan yang dialami dan disaksikan. Kekerasan itu bukan hanya dari keluarga tetapi juga melalui tontonan yang dia lihat," sambungnya.Baca juga: Temuan Laboratorium Forensik Terkait Kasus Anak Bunuh Ibu di Medan, DNA Korban di Gagang PisauKombes Calvin menyampaikan, sebelum kejadian, korban F bersama kedua anaknya tidur di kamar lantai satu.AL dan korban tidur di kasur bagian atas, sementara kakak AL tidur di kasur bawah. Suami korban beristirahat di lantai dua.Pada Rabu sekitar pukul 04.00 WIB, AL bangun, mengambil pisau, membuka bajunya, dan melukai korban yang sedang tertidur."Adik (AL) mengambil pisau, membuka bajunya, dan melukai korban," kata Calvijn saat konferensi pers di Polrestabes Medan pada Senin .


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Sekretariat Satgas PASTI, Hudiyanto, mengatakan sejak IASC beroperasi pada 22 November 2024 hingga 11 November 2025, lembaga itu telah menerima 343.402 laporan penipuan. Laporan tersebut menunjuk 563.558 rekening yang terkait aktivitas penipuan, di mana 106.222 rekening telah diblokir.Dari keseluruhan laporan, total kerugian yang dilaporkan korban mencapai Rp 7,8 triliun, sementara upaya pemblokiran dana berhasil menahan Rp 386,5 miliar.“Sejak awal beroperasi di tanggal 22 November 2024 sampai dengan 11 November 2025, IASC telah menerima 343.402 laporan penipuan. Total rekening terkait penipuan yang dilaporkan ke IASC sebanyak 563.558 rekening dengan 106.222 rekening telah dilakukan pemblokiran,” ujar Hudiyanto lewat keterangan pers, Sabtu .Baca juga: Penipuan AI Deepfake Kian Marak, Keamanan Identitas Digital Diuji“Adapun total kerugian dana yang dilaporkan oleh korban penipuan sebesar Rp 7,8 triliun dengan dana yang telah berhasil diblokir sebesar Rp 386,5 miliar,” paparnya. Menurut Hudiyanto, angka-angka itu memperlihatkan sejauh mana pelaku memanfaatkan platform digital untuk menjerat korban, mulai dari pinjaman online alias pinjol ilegal hingga tawaran investasi palsu, sehinggga penindakan masif diperlukan untuk melindungi konsumen.Sebagai bagian dari penindakan, Satgas PASTI kembali memblokir 776 aktivitas dan entitas keuangan ilegal, yang terdiri atas 611 entitas pinjaman online ilegal, 96 penawaran pinjaman pribadi (pinpri), dan 69 tawaran investasi ilegal.

| 2026-01-14 19:28