Ada Sekolah Memprihatinkan di Gowa, Mirip Kandang Kambing, Cuma Punya 1 Guru

2026-01-12 15:27:25
Ada Sekolah Memprihatinkan di Gowa, Mirip Kandang Kambing, Cuma Punya 1 Guru
GOWA, - Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) di sebuah negara.Fasilitas sekolah yang memadai serta tenaga pengajar yang berkualitas adalah impian bagi setiap murid dan orang tua.Namun, situasi tersebut tampaknya menjadi mimpi yang jauh dari kenyataan bagi salah satu madrasah di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.KOMPAS.COM/ABDUL HAQ YAHYA MAULANA T. Puluhan murid sekolah dasar (SD) di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan mengikuti proses belajar mengajar dengan fasilitas sekolah yang cukup memperihatinkan. Senin, .Kondisi Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang terletak di Kelurahan Cokoro, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Gowa, sangat memperihatinkan.Sekolah ini memiliki dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan tripleks serta beralaskan tanah.Dari pantauan Kompas.com, diketahui bahwa puluhan murid, yang terdiri dari kelas 1 hingga kelas 6, hanya diajar oleh satu orang guru honorer, yakni Mansyur (58).Ia terkadang dibantu oleh mahasiswa yang tengah menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN)."Ada 40 lebih siswa dan cuma tiga kelas, jadi kelas satu dan dua terpaksa digabung satu kelas, begitupun kelas tiga dan empat dan seterusnya," ungkap Mansyur saat dihubungi pada Senin, .Baca juga: Mendikdasmen Kunjungi SD di Bogor, Lewati Jalan Berlubang dan Dapati Sekolah MemprihatinkanSekolah ini merupakan kelas jauh dari sekolah induknya yang berjarak sekitar 5 kilometer.Informasi yang dihimpun Kompas.com menyebutkan bahwa sekolah ini dibangun pada tahun 2010 dan menggunakan tanah wakaf, serta bahan bangunan yang diperoleh dari sumbangan masyarakat setempat."Dulu kami belajar di kolong rumah karena sekolah induk jauh sekitar 5 kilometer dari sini. Lima belas tahun lalu, dibangunlah sekolah kelas jauh ini, itu pun hasil swadaya masyarakat," tambah Mansyur.Sebagai satu-satunya tenaga pengajar di sekolah tersebut, Mansyur mendapatkan upah yang sangat minim, yakni Rp 250.000 per bulan yang dibayarkan setiap tiga bulan sekali.Baca juga: Wamen Dikdasmen RI Janji Beri Peralatan Sekolah untuk Anak Korban Banjir Aceh Utara"Kalau tenaga pengajar cuma saya sendiri, biasanya dibantu sama mahasiswa KKN. Gaji saya cuma Rp 250.000 per bulan dan dibayarkan setiap tiga bulan," jelas Mansyur.Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pendidikan anak-anak di kawasan tersebut, yang harus berjuang dalam lingkungan yang tidak mendukung.Muthaharah, seorang pemerhati sosial yang sering mengunjungi sekolah tersebut, sangat berharap adanya perhatian dari pemerintah.Baca juga: Kondisi MI Darul Furqon di Perbatasan RI-Malaysia yang Kian Memprihatinkan Setelah Jembatan Ambruk"Kita lihat sendiri, sekolah ini mirip kandang kambing. Kami berharap pemerintah turun tangan untuk membangun sekolah ini. Meskipun ini adalah kelas jauh dan merupakan sekolah swasta, tetapi ini adalah sarana pendidikan yang harus didukung," ujarnya ketika ditemui oleh Kompas.com pada Senin, .Dengan harapan yang tulus, semoga perhatian dari pihak terkait dapat segera terwujud, agar sekolah tersebut dapat memberikan pendidikan yang layak dan berkualitas bagi anak-anak di wilayah Gowa.


(prf/ega)