Kisah Mahasiswa di Surabaya Kerja Sampingan Jadi Kurir Makanan demi Uang Kuliah

2026-01-12 04:44:57
Kisah Mahasiswa di Surabaya Kerja Sampingan Jadi Kurir Makanan demi Uang Kuliah
SURABAYA, - Thoriq Imamul Mustafa (21), seorang mahasiswa di Surabaya, Jawa Timur, memilih kerja sampingan sebagai kurir makanan untuk memenuhi biaya kuliah.Setiap pulang kuliah sore hari, ia lebih banyak menunggu orderan di dekat pusat perbelanjaan di Surabaya agar segera mendapat customer. Rutinitas ini ia lakukan sejak tiga bulan terakhir.“Kerja sampingan aja. Pengin nambah uang jajan, waktu itu juga ada kebutuhan untuk jurnal Rp 500.000 makanya nyari kerjaan buat nambah pas kuliah,” kata Thoriq kepada Kompas.com, Minggu .Baca juga: Curhat Kurir Paket di Banyuwangi, Kena Omel gara-gara Order PalsuIa memilih mencari penghasilan tambahan sebagai driver makanan online karena waktunya fleksibel dan tidak mengganggu proses perkuliahan.“Kebanyakan nganterin makanan sama barang. Biasanya enggak nentu tergantung kosongnya kuliah. Kalau kosong ya dari pagi, tapi kebanyakan malam hari,” bebernya.Baca juga: Kisah Akbar, Mahasiswa yang Menyambi Kerja Jadi Kurir Tiga LiniThoriq bekerja jadi kurir makanan hanya di saat waktu luang. Dalam sehari, ia bisa meraup pendapatan sebesar Rp 100.000.Menurutnya, bekerja sebagai kurir makanan bukan tanpa risiko. Ia kerap menerima orderan fiktif.“Dua kali kena orderan fiktif, karena pakai sistem COD ternyata pas sampai lokasi bukan yang order, atau enggak rumahnya enggak berpenghuni,” bebernya.Kendala tersebut tidak hanya ia alami sendiri. Thoriq mengatakan, hampir sebagian besar driver kerap menerima orderan fiktif.Apabila menerima orderan fiktif, makanan bisa dikembalikan ke resto asal difoto dengan jelas sebagai bukti. Jika orderan tersebut tengah malam, makanan akan dimusnahkan, sementara siang hari makanan disalurkan ke yayasan atau panti asuhan.“Waktu itu geprek Rp 30.000. Makanan kalau orderan fiktif bisa di-refund. Waktu itu saya foto tapi enggak jelas sehingga enggak disetujui,” sambungnya.Agar tidak terjebak orderan fiktif, Thoriq membagikan tips dengan menelepon customer lebih dulu. Apabila ada jawaban yang jelas, maka orderan kemungkinan besar asli.“Saya enggak tahu kenapa ada orang order fiktif. Sepertinya orang gabut yang oknum mempersulit hidup orang,” sambungnya.Selain itu, ia juga pernah mendapat komplain dari customer karena mengantar makanan lama di saat kondisi hujan deras.“Dikomplain pernah di aplikasi. Hujan saya kelamaan nganterin pesanannya, customer bisa komplain di aplikasi akhirnya dampaknya ke akun saya bisa kena penalti,” ungkapnya.Beruntungnya, selama menjadi kurir makanan, ia menemukan solidaritas sesama pekerja kurir. Ketika ia mengalami kendala di jalan, selalu ada driver lain yang menolong.“Senangnya kalau ada sama-sama driver ketika ada kesulitan pasti ada yang nolong. Misal, sama-sama nunggu orderan cepat kenal padahal baru ketemu enggak mandang tua atau muda,” bebernya.Ia juga merasa senang karena keberuntungan kadang juga didapatkan dari customer yang berbaik hati memberikan tip atau bingkisan.“Sering dikasih tip Rp 5.000 sampai Rp 10.000. Waktu itu juga pernah ngantar makanan customer ternyata habis pulang haji, saya dikasih air zamzam, roti sama kacang Arab,” pungkasnya.


(prf/ega)