Cerita Lansia Pengupas Kerang Bertahan di RSUD Tanjung Pura Tanpa Bantuan Pemerintah

2026-01-12 13:42:29
Cerita Lansia Pengupas Kerang Bertahan di RSUD Tanjung Pura Tanpa Bantuan Pemerintah
MEDAN, - Sore ini, Nurbaiti, seorang lansia berusia 67 tahun, bersama tiga pengungsi lainnya masih bertahan di lantai dua RSUD Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada Minggu .Di atas keramik putih, ia duduk mengenakan daster sambil bercakap-cakap dengan pengungsi lainnya. Wajahnya tampak lemas setelah menghadapi bencana banjir yang melanda kediamannya.Bajunya tergantung di dinding, sementara di belakangnya tergeletak matras putih yang biasanya digunakan rumah sakit untuk merawat pasien.Di tempat inilah wanita berdaster cokelat ini tidur selama delapan hari terakhir.Baca juga: Bobby: Estimasi Kerugian Banjir dan Longsor di Sumut Rp 9,98 TriliunNurbaiti, yang sehari-hari bekerja sebagai pengupas kerang, menceritakan bahwa banjir melanda rumahnya pada Rabu ."Saya masih ingat, sehari sebelumnya, siang sekitar pukul 14.00 WIB, tetangga sudah heboh karena banjir mulai masuk ke pemukiman warga. Tapi saya acuh, sebab setiap akhir tahun banjir kerap melanda. Saya pun bertahan di rumah sendirian di Jalan Bambu Runcing, Kelurahan Pekan Tanjung Pura," ungkapnya.Jelang tengah malam, pintu rumahnya digedor-gedor. Ia terkejut melihat anak laki-lakinya yang panik."Rumah anak di pinggir sungai ternyata sudah tergenang. Jadi dia datang bersama keluarganya. Tidurlah kami di rumah ibu," ucap Nurbaiti.Baca juga: Kondisi Memprihatinkan RSUD Tanjung Pura Sumut Usai Terendam Banjir Belasan HariKeluarga tersebut tidak dapat tidur nyenyak mendengar suara genteng yang dihujam derasnya air hujan, dan lambat laun banjir mulai menggenangi rumah mereka.Sekitar pukul 05.00 WIB, Nurbaiti dan anaknya bergerak menuju benteng atau tanggul yang posisinya cukup tinggi."Ternyata beberapa warga lainnya sudah membangun kemah di sana. Selama empat hari, kami bertahan hidup dengan makanan dan minuman seadanya," ujarnya.Setelah itu, mereka dibawa ke RSUD Tanjung Pura."Kami jalani banjir itu setinggi dada (sekitar satu meter) sampai ke sini," tambahnya.Kecemasan mulai pudar ketika Nurbaiti melihat kondisi lantai dua rumah sakit yang aman dan dihuni banyak pengungsi."Selama di sini, ya makan seadanya. Kadang makan Indomie. Kadang nasi bungkus. Itu pun yang diberikan oleh anak-anak atau ibu-ibu yang masih di sini," ungkapnya.


(prf/ega)