Bukan Sekadar Modal, Investasi INA di Tol Tekan Pelanggaran 40 Persen

2026-01-15 04:58:37
Bukan Sekadar Modal, Investasi INA di Tol Tekan Pelanggaran 40 Persen
JAKARTA, - Investasi tidak selalu diukur dari besarnya dana yang ditanamkan atau imbal hasil finansial semata. Bagi Indonesia Investment Authority (INA), investasi juga menyangkut dampak nyata bagi keselamatan publik. Pendekatan itulah yang tercermin dari pengelolaan Jalan Tol Bakauheni-Terbanggi Besar, salah satu ruas Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Di mana penerapan teknologi modern berhasil menekan pelanggaran kecepatan hingga 40 persen. Vice President ESG INA, Fetriza Rinalddy, mengatakan keterlibatan INA di sektor infrastruktur jalan tol tidak berhenti pada penempatan modal.INA selaku Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Sovereign Wealth Fund (SWF) justru mendorong perbaikan operasional melalui inovasi teknologi agar manfaat investasi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan pengguna jalan. Di ruas Tol Bakauheni-Terbanggi Besar, penerapan teknologi menjadi kunci perubahan cara pengelolaan jalan tol. Lewat sistem pemantauan dan pengendalian kecepatan yang lebih modern, perilaku pengemudi dapat diawasi secara lebih efektif, sehingga pelanggaran kecepatan berhasil ditekan hingga sekitar 40 persen. Baca juga: Bye-bye Impor! Indonesia Bangun Pabrik Plasma Darah Terbesar di ASEAN Pernyataan Fetriza disampaikan dalam program Naratama Kompas.com, "Pintu Investasi Indonesia di Pundak INA", yang dipandu langsung Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin, dipublikasikan Rabu . “Di Tol Bakauheni-Terbanggi Besar, penggunaan teknologi kami berhasil menurunkan angka pelanggaran kecepatan hingga 40 persen. Jadi bukan cuma naruh uang, tapi memperbaiki operasional,” ujar Fetriza dalam program tersebut. INA mengelola investasi jalan tol menggunakan platform bersama mitra global, yakni investor dana pensiun asal Belanda, APG Asset Management N.V (APG), serta Abu Dhabi Investment Authority (ADIA), Sovereign Wealth Fund milik pemerintah Uni Emirat Arab (UEA). Kolaborasi itu memungkinkan penerapan standar internasional dalam pengelolaan aset infrastruktur strategis di Indonesia. “Di sektor jalan tol, kami punya platform bersama APG dan ADIA,” paparnya. Baca juga: Laporan LPEM UI: Investasi INA Ubah Infrastruktur Jadi Nilai Ekonomi dan SosialDok. Istimewa Tol Kanci-PejaganAPG dan ADIA sebelumnya telah mengumumkan investasi di ruas Jalan Tol Trans Jawa, yakni Kanci-Pejagan dan Pejagan-Pemalang, melalui kemitraan dengan INA.Investasi ini dirilis pada 10 Januari 2024 sebagai tindak lanjut nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada Mei 2021 untuk membentuk platform investasi jalan tol pertama di Indonesia. Kedua ruas tol menjadi aset awal dalam platform investasi yang dibentuk INA, APG, dan ADIA, dengan target peluang investasi hingga 2,75 miliar dollar AS di berbagai jaringan tol di Indonesia. Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat pembiayaan infrastruktur nasional sekaligus menarik partisipasi investor global jangka panjang. Bagi INA, transaksi tersebut merupakan investasi lanjutan dari kerja sama sebelumnya dengan PT Waskita Transjawa Toll Road dan PT Waskita Toll Road, anak perusahaan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), atas aset yang sama. Langkah strategi ini sejalan dengan misi INA untuk berkontribusi pada pembangunan ekonomi berkelanjutan, serta menghadirkan mitra investor kelas dunia ke Indonesia. Baca juga: Diminta Luhut Suntik Rp 50 Triliun ke INA, Purbaya Beri Syarat KhususDok. Istimewa Tol Pejagan-PemalangUntuk diketahui, Ruas Tol Kanci-Pejagan dan Pejagan-Pemalang memiliki peran strategis dalam meningkatkan konektivitas regional dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Keberadaan kedua ruas mempersingkat waktu tempuh antar pusat kota besar dan meningkatkan akses ke kawasan industri dan pelabuhan utama. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada efisiensi logistik, tetapi juga menciptakan efek pengganda bagi pembangunan ekonomi domestik dan penciptaan lapangan kerja. “Kemajuan infrastruktur Indonesia mendapatkan dorongan besar. Platform ini menggabungkan keahlian kelas dunia dan rekam jejak yang kuat dari para mitra kami dalam investasi jalan tol global ke dalam lanskap infrastruktur Indonesia,” ujar Ridha Wirakusumah, Ketua Dewan Direktur INA saat pengumuman kerja sama. “Dengan menyambut APG dan ADIA sebagai pemegang saham, kami bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kami dalam mendukung dan memajukan proyek-proyek strategis nasional, yang diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi yang signifikan dan mendorong Indonesia menuju masa depan yang penuh dengan konektivitas dan sejahtera," paparnya. Platform investasi jalan tol ini kemudian memperluas portofolionya dengan menambahkan ruas Jalan Tol Medan-Binjai, serta Bakauheni-Terbanggi Besar di Trans Sumatra.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-01-15 04:27