Rekonstruksi Penganiayaan Anggota Paskibra oleh Senior di Serang, 44 Adegan Diperagakan

2026-01-12 05:51:51
Rekonstruksi Penganiayaan Anggota Paskibra oleh Senior di Serang, 44 Adegan Diperagakan
SERANG, - Polresta Serang Kota melaksanakan rekontruksi kasus dugaan penganiayaan terhadap anggota Paskibra SMAN 1 Kota Serang, Banten, yang diduga dilakukan  seniornya.Kegiatan ini berlangsung pada Selasa di lokasi kejadian yang terletak di samping gedung SMAN 1 Kota Serang, Jalan Ahmad Yani, Cipare, Serang.Rekonstruksi tersebut melibatkan tersangka berinisial An, korban HS, serta sejumlah saksi, termasuk dua anak anggota DPRD Serang.Sebanyak 44 adegan diperagakan selama proses rekontruksi."Dari 44 adegan itu ada versi dari anak korban, keterangan anak korban. Kemudian ada versi dari saksi-saksi, kemudian anak pelaku," ujar Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Serang Kota, IPDA Febby Mufti, setelah rekontruksi kepada wartawan.Baca juga: Baru Satu Tersangka, DPRD Banten Soroti Kasus Paskibra Dianiaya Senior di SerangFebby menjelaskan, rekontruksi dilakukan karena terdapat perbedaan keterangan antara korban dan tersangka, yang dihadiri jaksa dan pengacara dari kedua belah pihak.Namun, selama proses yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut, muncul keberatan dari masing-masing pihak terkait adegan yang diperagakan."Sementara masih dengan keterangan yang sama. Bahwa keterangan versi anak korban tadi ada sekitar 30 adegan. Kalau versi anak pelaku dan saksi-saksi hanya sekitar 13 adegan," tambah Febby.Terkait kemungkinan adanya tersangka baru, Febby menyatakan, penyidik akan mendalami hal tersebut, termasuk meminta keterangan dari ahli.Baca juga: Pejabat Buton Tengah Korupsi Dana Makan Paskibra, Ambil Fee Rp 59 JutaDari hasil rekontruksi, terungkap adanya perbedaan keterangan mengenai jumlah orang yang berada di lokasi kejadian saat peristiwa penganiayaan terjadi pada malam 13 Agustus 2025."Kalau versi anak korban itu ada 6, termasuk satu nama inisial M yang menurut anak korban ada di TKP. Tapi menurut versi anak pelaku, hanya ada 5 yang di TKP. Satu itu inisial M tidak ada di TKP," jelasnya.Selain itu, korban menyebutkan adanya sebanyak 120 pemukulan yang dialaminya.Namun, pelaku hanya mengakui melakukan pemukulan di pergelangan tangan, tiga kali di kanan kiri, satu kali ke arah perut, dan satu kali ke arah wajah."Kalau dari hasil keterangan ahli, dokter ahlinya sudah kami minta keterangan. Keterangan dari ahli memang lukanya termasuk kategori ringan dan tidak membutuhkan penanganan yang intensif," tandas Febby.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-01-12 05:50